Cerita Backpacker Ke Dieng

1
812

Dieng, dikenal sebagai negeri di atas awan. Di Dieng inilah terletak desa tertinggi di Tanah Jawa. Saat ini Dieng menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah. Terutama di akhir pekan, akan ada banyak wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara yang mengunjungi tempat ini. Puncak dari kunjungan wisatawan ke Dieng adalah pada saat Dieng Culture Festival yang diadakan setiap tahunnya.

Dieng terbelah menjadi dua, yaitu Dieng Kulon (barat) yang menjadi milik Banjarnegara, dan Dieng Wetan (Timur) yang menjadi milik dari Kabupaten Wonosobo. Dieng memiliki suhu yang sangat dingin dibandingkan dengan wilayah lain di Pulau Jawa, hal ini dikarenakan Dieng terletak di ketinggian rata-rata 2000 mdpl.

Spot pertama dari rangkaian perjalananku Keliling Indonesia.

Yups, Dieng menjadi spot pertamaku dalam menjalani rangkaian trip Backpacker Keliling Indonesia. Ada beberapa faktor yang membuatku memutuskan Dieng menjadi salah satu tempat singgah pertama dalam rangkaian perjalanan panjang ini. Salah satunya adalah faktor lokasi. Yups, Aku berasal dari kota Temanggung, jaraknya sekitar 40 KM dari Dieng, yah kuanggap perjalanan Backpacker Ke Dieng ini sebagai pemanasan sebelum berjalan lebih jauh lagi. Akan sangat disayangkan kalo aku pergi berkeliling Indonesia tanpa harus mampir dulu ke Dieng.

Baca juga : Backpacker Keliling Indonesia (1)

Baca juga : Backpacker Keliling Indonesia (2)

Baca juga : Tips Wisata ke Sabang, Aceh Ala Backpacker

Nebeng dari rumah ke Dieng.

Backpacker Ke Dieng
Nebeng pertama kali ke Dieng

Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim.. , kubulatkan tekad berangkat dari rumah menuju Dieng dengan cara nebeng. Tapi tidak hanya ke Dieng saja, perjalanan mengeksplore negeri ini, akan aku lakukan dengan cara nebeng juga. Ya… tidak seratus persen nebeng sih guys, tapi aku akan sering melakukannya.

Sebenernya, nebeng adalah hal baru bagiku. Aku belum pernah mencoba cara ini untuk travelling ke tempat yang aku inginkan. Tapi karena keinginanku untuk Keliling Indonesia sangat kuat walaupun dengan modal terbatas, aku dengan senang hati melakukan trip dengan cara nebeng ini.

Dari pengalamanku nebeng ke Dieng, prosesnya tidak sulit ataupun perlu waktu lama guys. Ternyata masih banyak orang baik di Indonesia. Untuk menuju kesana ak nebeng dua kali hingga sampai di Kota Wonosobo, dan dari kota menuju Dieng, aku baru gunakan angkutan umum.

Menginap di Harumi Dieng Homestay.

Harumi Dieng Homestay and Resto
Menginap di Harumi Dieng Homestay and Resto.

Di Dieng, aku menginap di sebuah homestay yang sangat nyaman sekali. Lokasinya strategis, berada di antara Kota Wonosobo dan Dieng. Jadi kalo kita mau explore tempat wisatanya, kita bisa langsung naik lagi ke Dieng, tapi kalo mau explore kuliner di Wonosobo, kalian juga bisa kembali turun lagi kira-kira 30 menit perjalanan.

Karena lokasinya belum masuk Dieng, jadi udaranya belum terlalu dingin, tapi kalian tetap bisa menikmati udara segar khas pegunungan. Cocoklah bagi kalian yang mau menghilangkan stress karena penat bekerja. Harganya juga tidak terlalu mahal kok, per room cuma 200 ribu rupiah per malam untuk weekday, dan 250 ribu rupiah untuk weekend and holiday. Jadi kalo kalian backpackeran berdua atau bertiga jadinya bisa lebih murah.

Nah di homestay juga disediakan sewa motor bagi kalian yang mau explore Dieng dan merasakan sensasi belaian sejuknya angin Dieng. Tapi jangan lupa pake jaket dan celana panjang ya. Emang sejuk sih, tapi lama-lama badan bisa menggigil kalo ga pakai jaket, hehehehe.

So, nih guys aku kasih akun instagram dari Harumi Dieng Homestay, jadi kalian bisa stalking duluan sebelum kalian berangkat ke Dieng. IG : Harumi_Dieng. Semoga bisa jadi referensi ya.

Explore Air Terjun Sikantong.

Air Terjun Sikantong
Air Terjun Sikantong.

Nah kalo kalian menginapnya di Harumi Dieng Homestay, Kalian akan diajak oleh ownernya (Pak Suratno) ke Air Terjun Sikantong, lokasinya di belakang Homestay, jalan kaki kira-kira 30 menit. Air terjunnya keren buaangeeet guys. Masih sepi, ga ada orang lain selain kita malahan.

Karena belum dikomersilkan sama warga setempat, jadi kalian bisa mengunjunginya gratis tis tis tis. Disini kalian bisa mengilhami anugerah ciptaan Yang Maha Kuasa yang luar biasa indah. Berdiam diri sejenak di Air Terjun Sikantong ini bisa membuat jiwa kita menjadi tenang.

Meskipun air terjunnya cantik, kalian tetap harus hati-hati ya, guys. Aliran airnya deras banget, kalo mau nyeberang arusnya, usahakan nyari batu yang bisa buat pijakan atau yang bisa dijadikan pegangan, kalo ada teman yang lain, usahakan untuk selalu mengawasi ya.

Ada hal yang sedikit kusayangkan, ada banyak sampah yang tersangkut di bebatuan ataupun di pepohonan sepanjang aliran sungai menuju air terjunnya guys. Ini akibat ulah manusia-manusia yang membuang sampah sembarangan. Mereka tidak pernah berpikir, kemana akhir dari perjalanan sampah-sampah itu. Apabila ini terus berlanjut, bisa-bisa sampah-sampah yang terbawa arus sungai akan mengendap ratusan tahun di lautan. Bisa jadi 50 tahun lagi, akan ada lebih banyak sampah di lautan daripada ikan yang berenang.

So please keep clean bumi kita ya guys. Sayangilah bumi seperti kita menyayangi diri kita sendiri.

Indahnya Sunrise di Puncak Sikunir.

Sunrise di Puncak Sikunir
Sunrise di Puncak Sikunir.

Tidak lengkap rasanya kalo kalian backpacker-an ke Dieng tapi tidak menikmati indahnya Sunrise Sikunir. Memang perlu usaha extra untuk bisa sampai di Puncak Sikunir. Mulai dari bangun jam 3 pagi sampai dengan mendaki dari tempat parkir motor sampai dengan puncaknya. Butuh waktu sekitar 45 menit naik motor dari Harumi Dieng Homestay tempatku menginap sampai dengan tempat parkir di bawah bukit Sikunir. Selama perjalanan naik motor kalian harus siap dengan dinginya suhu dieng di pagi hari. Jadi jangan lupa pakai jaket tebal, celana panjang, penutup telinga dan sarung tangan ya. Kalian ga akan nyesel deh kalo ikuti caraku.

Setelah sampai di parkiran, kalian harus mempersiapkan fisik dan mental untuk mendaki ke Puncak Sikunir. Kalo bisa sepatunya yang ga licin ya guys, kalo musim hujan jalanya licin banget, apalagi kalo sudah sampai jalanan tanah, kalian perlu extra hati-hati. Jangan lupa juga buat bawa senter, jalanannya gelap banget soalnya.

Nah, perjuangan hebat kalian akan terbayar lunas bila sudah sampai di puncak. Kalian akan disuguhi pemandangan sunrise yang tiada duanya. Konon katanya, pemandangan sunrise di Sikunir adalah pemandangan sunrise terbaik di Asia Tenggara. Tapi sayang, pas aku kesana, sunrisenya memang bukan di momen terbaiknya. Tapi aku sudah cukup puas. Mungkin suatu saat nanti aku bisa mengulanginya lagi.

Bertemu dengan Si Bocah Gimbal.

Bocah Gimbal / Gembel Dieng
Rizi si Bocah Gimbal Dieng

Nah, kalo kita ngomongin Si Bocah Gimbal, memang cuma Dieng yang punya. Yups, bocah gimbal memang salah satu fenomena unik yang ada di Dataran Tinggi Dieng ini. Bocah gimbal tumbuh besar layaknya bocah yang lain, hanya saja mereka memiliki keistimewaan pada rambutnya.

Rambut dari para bocah gimbal memang bukan sembarang rambut. Rambut mereka tumbuh layaknya komunitas reggae. Kita tidak bisa sembarangan memotong rambut para bocah gimbal. Karena rambut gimbal mereka akan tetap tumbuh sampai mereka menjalani prosesi ruwatan.

Ruwatan yaitu sebuah prosesi yang harus dilalui untuk memotong rambut bocah gimbal. Syarat utama dalam menjalani prosesi ruwatan ini adalah, orang tua dari si bocah gimbal harus memenuhi keinginan mereka. Permintaan mereka memang bukan permintaan yang mahal, tapi kadang permintaan mereka itu unik. Kadang ada diantara mereka yang meminta sate telur puyuh 3 tusuk, sate ayam 3 tusuk, namun belinya harus di depan rumah sakit. Ada pula yang minta permen Yupi 3 bungkus dan kerupuk rambak 2 bungkus. Ada juga yang meminta sepeda yang berwarna pink. Ya seperti itulah permintaan dari para bocah gimbal sebelum menjalani prosesi ruwatan.

Setalah permintaan terpenuhi, barulah prosesi ruwatan bisa terlaksana. Dan setelah dipotong, rambut gembel yang telah dipotong akan dilarung di Telaga Warna. Banyak warga Dieng yang percaya bahwa bocah gimbal adalah titipan dari Nyai Roro Ronce yang berasal dari pantai selatan. Jadi dengan melarung rambut di telaga warna yang mereka yakini tersambung dengan laut selatan, ini menandakan bahwa mereka sudah mengembalikan rambut itu kepada pemiliknya.

Dieng Surga Kentang.

Kentang Dieng.
Kentang Dieng.

Selama tinggal beberapa hari Dieng, aku sudah mengunjungi beberapa tempat wisata dan bertemu dengan Sesepuh adat Dieng serta Bocah Gimbal. Ada satu hal lainya yang menarik perhatianku, yaitu KENTANG. Ya Dieng memang terkenal akan potensi wisatanya, tapi ternyata Dieng juga terkenal akan komoditas pertanianya, yaitu Kentang. 

Kentang Dieng memang sudah terkenal akan keunggulannya. Daya tahannya yang lama, dan teksturnya yang lembut, sehingga enak dimakan, membuatnya menjadi primadona bagi para konsumen kentang. Bahkan kentang Dieng sudah bisa menembus pasar ekspor ke Singapura.

Bagi para petani Dieng, kentang sudah menjadi andalan utama bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan. Para petani Dieng mengenal kentang sejak tahun 1980 an sesaat setelah meletusnya Gunung Galunggung di Jawa Barat. Para petani kentang yang terdampak erupsi Gunung Galunggung harus mencari opsi di daerah lain untuk menanam kentang, hingga akhirnya mereka menemukan Dieng yang memang lokasinya sangat tepat untuk dijadikan sebagai lahan penanaman kentang. Semenjak saat itu kentang langsung menjadi primadona bagi para petani Dieng, bagaimana tidak, dari modal yang sedikit, mereka bisa memanen hasilnya dalam jangka waktu 4 bulan saja dari masa tanam hingga masa panen.

Kentang memang sangat menguntungkan saat itu, hingga muncul istilah HAJI KENTANG. Alasanya dari hasil menanam kentang, banyak petani Dieng yang bisa menunaikan ibadah haji di tanah suci. Tapi itu cerita masa lalu saat tahun 1990an, yang memang dari 1 hektar lahan, mereka bisa mendapatkan 25-30 ton kentang. Tapi saat ini mereka hanya bisa memperoleh 12 ton kentang dalam 1 hektar lahan. 

Penurunan hasil panen ini memang akibat dari cara petani dieng yang mengolah lahannya itu sendiri. Mereka terus memaksakan tanah di Dieng untuk bekerja keras menghasilkan kentang tanpa diselingi oleh tanaman lain sepanjang tahun, lama kelamaan, tanah Dieng kehilangan unsur haranya.

Dan apabila terus dipaksakan, dikhawatirkan nantinya Kentang justru bukan menjadi primadona lagi seperti dua dekade lalu, melainkan akan menjadi buah simalakama.

Nah sebelum kekhawatiran itu terjadi, kita nikmati saja dulu lezatnya Kentang Dieng. 

Note : ikuti terus perjalananku keliling Indonesia di website ini. Kalian juga bisa memantau akun Instagramku di @tint_arya.

See you guys…..

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here