Jalan-jalan Keliling Sumatera Barat (Padang-Bukittinggi) ala Backpacker

2
444
Jalan jalan keliling sumatera barat padang dan bukitttinggi

“Atas nama Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta.” Begitulah bunyi penggalan akhir Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Lah, mungkin kalian akan bertanya, “apa hubungan teks proklamasi dengan artikel berjudul Jalan-Jalan Keliling Sumatera Barat ini?” Gini guys, aku memang bukanlah Putra Keturunan Minang yang lahir di Sumatera Barat. Tapi, Sumatera Barat selalu menjadi tempat impian yang ingin aku explore dari dulu. Alasanya dulu aku suka banget baca buku sejarah, dari situ aku tahu bahwa pada masa awal kemerdekaan, di antara ‘The Founding Fathers of Indonesia’ atau yang kita kenal dengan sebutan Bapak Pendiri Bangsa, banyak di antaranya yang berasal dari Sumatera Barat atau yang kita kenal sebagai Suku Minang.

Dari 68 para Bapak Pendiri Bangsa yang diakui keabsahanya, 9 orang diantaranya berasal dari Sumbar. Dan dari 68 ‘The Founding Fathers’ sebagian ahli mengerucutkan kembali menjadi 4 orang, yaitu Soekarno, Moh. Hatta. Mohammad Yamin dan Soepomo. 2 dari 4 nama yang aku sebut diatas, yakni Moh. Hatta dan M.Yamin adalah Putra Minang. Siapa yang ga kenal kedua nama tersebut? Moh.Hatta adalah salah satu proklamator republik ini sedangkan M.Yamin adalah Tokoh Pelopor Sumpah Pemuda, bahkan beliau adalah tokoh yang mempopulerkan istilah “Tanah Air” dan “Tanah Tumpah Darah” yang sering kali kita dengar ataupun kita ucapkan. Dua kosakata di atas bukanlah kosakata biasa, 2 kosakata di atas mempunyai power untuk mempersatukan bangsa kita. Dari fakta-fakta sejarah tersebut, dan atas dasar sumbangsih Sumatera Barat terhadap kemerdekaan Indonesia, maka dari itu, dari dulu aku ingin sekali menginjakkan kaki di ranah minang. (Kalo bisa sekalian dapat istri dari minang, biar tiap hari bisa makan rendang, hehehe)

Ketika backpackeran, aku memang tidak hanya menikmati wisata alamnya doang guys. Dalam setiap perjalanan, aku selalu ingin tahu berbagai macam hal, mulai dari sejarah, budaya hingga kekayaan alam yang ada di daerah yang aku kunjungi. Khusus untuk Tanah Minang, aku memang lebih tertarik dengan sejarah dan budayanya, makanya dalam artikel ini nanti, selain tempat wisata populer, aku akan menyebutkan tempat-tempat yang memiliki banyak cerita sejarah. Yuk, baca terus artikel ini sampai akhir ya guys, mungkin di antara kalian nanti ada juga yang ingin Backpackeran Keliling Sumatera Barat sepertiku!

Jalan-jalan Keliling Sumatera Barat setelah menyeberang dari Pulau Nias.

Nias, sebuah pulau eksotis di Samudera Hindia yang terkenal akan wisata surfing kelas dunia menjadi persinggahan terakhirku selama Backpackeran di Sumatera Utara. Yups, cerita perjalananku Keliling Sumatera Barat memang berawal setelah aku selesai menjalani Trip Keliling Sumatera Utara.

Setelah 12 jam terapung-apung di lautan yang menyatukan Nias dengan daratan Sumatera, akhirnya aku tiba juga di Pelabuhan Sibolga. “Kemana Bang? Kemana Bang?” sapa bapak-bapak tukang becak yang sudah mengantri di Pelabuhan. Waktu itu aku masih belum tahu harus menuju kota mana di Sumbar, jadinya aku cuma bisa senyum aja tanpa bisa menjawab pertanyaan mereka. 

Setelah keluar dari pelabuhan, aku ingat kalo aku punya teman namanya Siregar (Marga Batak), tapi tinggalnya bukan di Sumut melainkan di Sumbar. Karena ak ga punya nomor hapenya, ak kontak dia via FB Messenger, dan yups dia bilang kalo rumahnya di Pasaman Barat. Dan tanpa malu-malu aku bilang ke dia, “Bisa numpang nginep ga lae?” Karena kita dulunya teman akrab waktu merantau di Kota Solo, pastinya ak dibolehin buat stay di rumah dia. Mayanlah, bisa ngirit biaya nginep, hehehe. 

Singkat cerita dari Sibolga aku langsung menuju Pasaman naik mobil travel. Lama perjalanannya sekitar 10 jam dengan jalan yang berkelak-kelok khas rute bukit barisan yang memanjang dari Aceh hingga Lampung.

Berkunjung ke Museum Imam Bonjol, Pasaman Barat

Pagi harinya dari rumah Siregar, aku pinjam motor buat pergi ke Museum Imam Bonjol. Dari museum, aku jadi tahu sejarah Perang Padri. Ternyata Perang Padri tadinya adalah perang saudara sesama orang Minangkabau, antara kaum Padri (ulama) dengan kaum adat. Perang ini diawali dengan Kaum Ulama yang ingin memperbaharui kondisi di Tanah Minang, karena waktu itu kaum adat gemar melakukan kemaksiatan seperti berjudi, mabuk dan sabung ayam. Saat itu Kaum Padri mampu memenangkan peperangan. Hingga Kaum Adat meminta bantuan Belanda untuk melawan Kaum Padri. Namun cerita berubah ketika Kaum Adat justru bergabung dengan Kaum Padri karena merasa tidak nyaman dengan kesewenang-wenangan Belanda. Saat semua Warga Minang bersatu ditambah bantuan dari Suku Mandailing dan Aceh, Belanda sempat kocar-kacir. Namun pada tahun 1838 Belanda mampu meredam perlawanan seluruh perlawanan rakyat Minangkabau ditandai dengan menyerahnya pemimpin Perang Padri, Tuanku Imam Bonjol. Hingga akhirnya Sumatera Barat jatuh ke tangan Belanda.

Lanjut Perjalanan Backpacking Ke Bukittinggi, Sumatera Barat

Setelah numpang selama 2 hari di Si Regar, aku pamit buat melanjukan perjalanan Keliling Sumatera Barat. Kota yang jadi persinggahanku berikutnya adalah Bukittinggi, kota yang pernah menjadi ibukota negara Indonesia untuk sementara. Perjalanan dari Pasaman hingga Bukittingi sekitar 100 KM aku tempuh selama 2,5 jam naik bus. Tarifnya cuman 20.000. 

Di Bukittinggi aku menginap di Fort de Kock Hostel. Hostel khusus buat para backpacker seperti aku dengan fasilitas standard tapi dilengkapi dengan cafe di bagian bawahnya dan punya staf yang ramah-ramah. Hostel ini tepat berada di jantung kota Bukittinggi, dekat dengan Jam Gadang, ikon kota Bukittinggi. Hari pertama di Bukittinggi aku ga kemana-mana, cuma ngobrol dengan sesama backpacker dan para staf Hostel. Di Hostel cuma aku orang Indo yang menginap, 2 kawan yang sempat kenalan dan tukeran IG  berasal dari Canada dan Belanda. 

Jalan-jalan Keliling Sumatera Barat
Jam Gadang.

Aku merasa sangat nyaman tinggal di Bukittinggi, berada di ketinggian kisararan 900 MDPL membuat kota ini memiliki hawa yang sejuk, ga panas, dan ga terlalu dingin. Hawanya sama dengan kota asalku Temanggung, Jawa Tengah. Kalo kalian mau kulineran, dari hostel kalian tinggal jalan kaki 5 menitan, kalian pasti nemu tempat-tempat makan yang enak. Nah coba deh masakan Padang yang ada di Bukittinggi, rasanya ga kayak Masakan Padang di Jawa. Kalo kata gua sih lebih maknyusss… Bumbu rendangya meresap banget guys. Ga heran kalo rendang asli Sumatera Barat pernah dinobatkan jadi masakan terenak nomor 1 di dunia hasil survei versi CNN.

Jalan-jalan Keliling Pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat

Hari kedua di Bukittinggi, aku habiskan buat keliling kotanya. Tempat yang pertama aku kunjungi adalah Rumah Kelahiran Bung Hatta. Lokasinya ga jauh dari hostel, aku tempuh dengan jalan kaki sambil melihat-lihat Kota Bukittinggi. Rumah masa kecil Bung Hatta masih terpelihara dengan baik, namun sekarang rumah ini sudah berubah menjadi museum, sudah tidak ditingggali.

Setelah puas melihat Rumah Kelahiran Bung Hatta, aku jalan kaki lagi ke Monumen Jam Gadang. Belum lengkap rasanya jika kita pergi ke Bukittinggi namun ga mampir ke Monumen Jam Gadang. Jam Gadang adalah landmark utama Kota Bukittinggi. Monumen Jam Gadang mulai dibangun pada masa pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1926-1927. Jamnya sendiri adalah pemberian Ratu Belanda, Wilhelmina. Konon katanya, mesin yang menggerakkan Jam Gadang hanya ada dua di dunia, satunya lagi di Inggris yang kita kenal dengan nama Big Ben.

Jam Gadang Bukitttinggi
Perbedaan Big Ben dan Jam Gadang

Puas berfoto di Jam Gadang, aku lanjut jalan kaki ke Benteng Fort De Kock. Benteng ini dibangun Belanda sebagai benteng pertahanan dari serangan Rakyat Minangkabau saat Perang Padri. Sekarang Benteng Fort De Kock sudah berubah menjadi tempat wisata. Tempatnya adem, cocok kalo mau berlama-lama di sini. Kalian juga bisa mengunjungi Taman Margasatwa Bukittinggi melalui Fort De Kock dengan cara menyeberangi Jembatan Limpapeh, jembatan yang membentang di atas Jalan Jenderal A. Yani. Jembatan Limpapeh juga merupakan ikon utama Bukittinggi setelah Jam Gadang.

Ternyata, tiket yang aku beli untuk masuk ke Fort De Kock itu sudah include dengan tiket masuk Taman Margasatwa. Sebenarnya aku termasuk dalam bagian orang yang kurang nyaman ketika masuk ke dalam Taman Margasatwa, Kebun Binatang atau sejenisnya. Menurutku, hewan-hewan ini lebih baik tinggal di alam bebas, bukan dikurung dan dijadikan sebagai hiburan untuk manusia. Ada yang bilang, sebagian dari hewan-hewan ini adalah hewan yang sakit atau sudah dari kecil lahir di Taman Margasatwa ini, dan apabila dilepas di alam bebas, dikhawatirkan nanti mereka akan susah beradaptasi. Yah, entahlah, apapun alasannya, kadang aku selalu membayangkan jika aku yang dikurung, aku pasti akan merasa tersiksa.

Jembatan Limpapeh. Picture by : @the_adekfirdaus_gallery

Dari Fort de Kock, aku kembali lagi ke hostel. Jalan-jalan hari itu sudah cukup buatku. Memang aku ga mau memforsir tenaga lagi. Ak habiskan sore dengan nyantai di hostel dan malamnya aku cari tempat ngopi yang enak deket-deket hostel, lalu sama salah seorang staf hostel namanya Habibie aku diajak ngopi di cafe milik temannya, namanya Kasikoo Cafe, tempatnya nyaman buat nongkrong, jadi betah berlama-lama di cafe ini.

Hari Ketiga Trip Keliling Sumatera Barat.

Setelah puas mengelilingi Kota Bukittinggi, hari berikutnya aku sewa motor buat explore tempat lain yang letaknya ga jauh-jauh amat dari Bukittinggi. Destinasi pertamaku adalah Nagari Kapau, desa asal Nasi Kapau, salah satu kuliner wajib yang harus kalian coba ketika kalian menginjakkan kaki di Ranah Minang. Nasi Kapau ini sedikit berbeda dengan Nasi Padang. Ak ga bisa ngejelasin apa perbedaannya, yang jelas rasanya mantap guys. Pokoknya kalo kalian singgah di Bukittinggi, kalian harus sempetin mampir ke Desa Kapau, dijamin worth it. 

Istana Pagaruyung
Istana Pagaruyung. Picture by : @the_adekfirdaus_gallery

Setelah sarapan Nasi Kapau, ak lanjut perjalanan ke Istana Pagaruyung. Istana yang sekarang bukanlah bangunan asli, karena bangunan asli sudah terbakar sejak tahun 1804 saat terjadi Perang Padri. Bangunannya unik khas Minangkabau dengan ciri khas atap menyerupai tanduk kerbau. Kalian tahu ga makna dari tanduk kerbau di bangunan-bangunan Khas Suku Minang? Ceritanya dulu saat Para Utusan Majapahit, kerajaan yang sangat superior waktu itu, berkunjung ke Tanah Minang, mereka membawa kerbau terbaik mereka untuk ditandingkan dengan kerbau milik Suku Minang.

Karena Orang Minang tidak yakin kalo mereka akan memenangkan pertandingan, mereka mengganti kerbau yang akan bertanding dengan kerbau kecil yang masih menyusu dengan menambahkan besi runcing di tanduk kerbau kecil itu. Kerbau kecil itu sengaja tidak diberi makan beberapa hari. Sehingga di saat pertandingan, Sang Kerbau mengira bahwa Kerbau milik Majapahit adalah induknya, dan segera ia ingin menyusu karena sudah merasa kelaparan. Saat ingin menyusu tersebut, tanpa sengaja, tanduknya menusuk-nusuk Kerbau terbaik milik Majapahit hingga akhirnya Kerbau milik Majapahit itu pun mati. Sejak saat itu, mereka memperingati kemenangan mereka dengan menambahkan atap berbentuk tanduk kerbau di setiap bangunan adat mereka yang menjadi ciri khas warga minang hingga saat ini. Nama Minangkabau sendiri pun berarti Kerbau yang Menang.

Nonton Pertunjukan Pacu Jawi di Tanah Datar

Pacu Jawi
Pertunjukan Pacu Jawi. Picture by : @the_adekfirdaus_gallery

Selesai mengunjungi Istana Pagaruyung, ak melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Tanah Datar untuk menonton pertunjukan Pacu Jawi. Pacu Jawi dalam Bahasa Minang berarti balapan sapi. Namun sejatinya, pertunjukan Pacu Jawi bukanlah untuk mencari sapi yang tercepat, melainkan sapi yang bisa berlari paling lurus.

Pada mulanya, pertunjukan Pacu Jawi diadakan oleh masyarakat Tanah Datar untuk memperingati hasil panen yang melimpah. Namun saat ini, ajang Pacu Jawi sudah menjadi tradisi rutin di Tanah Datar, bahkan sering juga menjadi ajang perlombaan fotografi karena foto-foto yang dihasilkan dari ajang Pacu Jawi sangat artistik. Yang membuat acara ini semakin meriah adalah alunan musik traditional Khas Sumatera Barat yang selalu mengiringi dari awal sampai akhir pertunjukkan. Kalian juga tak perlu takut kelaparan, karena di sekitaran arena Pacu Jawi banyak yang menjajakan jajanan pasar khas minang,

Setelah puas menonton pertunjukan Pacu Jawi, aku langsung pulang ke Hostel di Bukittinggi.

Hari Keempat Trip Keliling Sumatera Barat.

Pagi hari setelah sarapan, ak pamitan sama kawan-kawan sesama backpacker di hostel buat lanjut perjalanan ke Danau Maninjau dan Padang. Kali ini aku ga sewa motor, melainkan naik transportasi publik. Dari hostel aku harus naik ojol dulu untuk menuju terminal Bukittinggi. Perjalanan dari terminal sampai Danau Maninjau  butuh waktu sekitar 1 jam. Pemandangan di sepanjang jalan bagus banget cuy. Kita akan melewati Kelok 44. Kelok 44 ini adalah jalan yang meliuk-meliuk seperti ular dengan jumlah tikungan ataupun kelok yang berjumlah total 44. Saat melewati Kelok 44 kalian akan melihat tanda nomor di setiap tikungan yang menandakan nomor urutan tikungannya. 

Pemandanagan Danau Maninjau
View Danau Maninjau. Picture by : @the_adekfirdaus_gallery

Di Danau Maninjau aku tinggal di Beach Guest House. Per malam cuma seratus ribu. Kamarnya sederhana sih, tapi kamarku tepat berada di pinggir danau. Dari teras kamar ak bisa melihat view Danau Maninjau yang menenangkan jiwa.

Kalian tahu ga guys? Ada banyak tokoh nasional yang lahir di sekitaran Danau Maninjau loh? Satu diantara mereka adalah Buya Hamka. Penulis yang karya-karyanya masih lestari hingga saat ini. Memang tidak mengherankan bila Danau Maninjau mampu melahirkan tokoh-tokoh besar, karena kondisi alam disana benar-benar menyejukkan dan sangat menentramkan jiwa. Atmosfer yang sangat mendukung untuk mempelajari segala macam disiplin ilmu.

Hari Kelima di Sumatera Barat — Menuju Padang

Aku hanya stay di Maninjau selama 1 malam. Keesokan harinya aku melanjutkan perjalanan menuju ibukota Sumatera Barat, Kota Padang. Ada kejadian lucu saat aku mau meninggalkan Maninjau. Waktu itu aku pikir akan sulit buat menemukan mobil angkutan di Maninjau karena jauh dari perkotaan. Jadinya, aku punya inisiatif buat nebeng. Di pinggir jalan, dengan bermodal jempol aku berharap akan ada yang memberikan tebengan sampai ke lokasi dimana aku bisa mencari bus yang menuju ke Padang. Dari beberapa mobil yang lewat, akhirnya ada satu mobil yang berhenti. Kalo ga salah Suzuki Carry tahun 90an. “Pak nebeng ya? Cuma sampai jalan raya dimana saya bisa naik bus yang jurusan ke Padang.” “Oke dik, silahkan naik.” Begitulah sekilas percakapanku dengan beliau.


Setelah mobil jalan beberapa KM. Ada ibu-ibu yang juga menstop lalu naik mobil ini. Mulai dari 1, kemudian 2 sampai beberapa orang di mobil. Lalu aku tanya ke Bapak Sopir,  “Maaf pak, ini mobil angkot ato pribadi ya?” “Mobil angkot dik sebenernya.” Waduh! aku pikir mobil pribadi guys, karena sebelum ada penumpang lain, kami asyik bertukar cerita, ga kepikiran kalo ini mobil angkot, pakai plat hitam soalnya. Akhirnya pas mau turun, ak diantar bapak itu ke tempat dimana ak bisa men-stop angkutan yang langsung menuju Padang. Dan beliau ga mau menerima pembayaran dariku. Beliau bilang ikhlas dan senang bisa membantu pejalan sepertiku ini. Yah, emang selama perjalananku backpackeran keliling Sumatera, aku selalu beruntung bisa bertemu orang-orang baik.

Hari – hari terakhir di Sumbar.

Sebenarnya ga banyak yang aku explore di Padang. 1 hari di Padang aku hanya pergi ke Museum Adityawarman, Masjid Raya Sumatera Barat dan jalan-jalan di pinggiran pantai yang dekat dengan hostel. Selain itu aku juga pergi jalan-jalan keliling Kota Padang naik bus Trans Padang. Lumayan irit buat liat-liat kondisi jalanan di Kota Padang seharian.

Sore hari setelah checkout dari hostel, aku putuskan buat balik ke Bukittinggi untuk menghabiskan hari-hari terakhirku di Sumatera Barat. Di Bukittinggi ak sempat mengunjungi Lobang Jepang. Yups namanya emang lobang, bukan goa. Karena tempat ini memang sengaja dibuat oleh manusia, bukan terbentuk secara alami. Lobang Jepang ini memiliki kedalaman sekitar 64 meter dengan panjang sekitar 6 KM. Tempat ini menjadi saksi bisu keganasan Tentara Jepang pada masa kependudukannya. Ada banyak rakyat kita yang dipaksa untuk menggali lobang ini hingga banyak diantaranya yang meninggal dunia. Selain sebagai tempat persembunyian, Lobang Jepang juga difungsikan sebagai gudang senjata dan penjara. 

Lobang Jepang Bukittinggi Sumatera Barat
Pintu masuk Lobang Jepang. Picture by : @the_adekfirdaus_gallery

Meski terkesan menyeramkan, namun pemandangan dari atas Pintu Masuk Lobang Jepang sangat menakjubkan guys, karena lokasinya berdekatan dengan Ngarai Sianok. Jadi sebelum menelusuri kedalaman Lobang Jepang, ada baiknya kalian liat-liat pemandangan dari atas Lobang Jepang terlebih dahulu. Lokasinya dekat sama Jam Gadang kok, bahkan bisa juga ditempuh dengan cara jalan kaki selama 15 menit.

Jalan-jalan ngetrip ke Sumatera Barat
View Ngarai Sianok dari atas Lobang Jepang. Picture by : @the_adekfirdaus_gallery

Lanjut Perjalanan Backpacking Menuju Pekan Baru, Riau

Setelah sekitar 1 mingguan berada di Ranah Minang, akhirnya aku harus melanjutkan pengembaraan ke tujuan berikutnya, yaitu Pekan Baru, Riau. Aku minta bantuan staf hostel untuk memesankan mobil  buat menuju ke Pekan Baru. Cukup sedih bagiku untuk meninggalkan Sumatera Barat. Sumbar emang jadi provinsi favoritku selama berkelana mengelilingi Pulau Sumatera.

Di perjalanan menuju Pekan Baru, aku melewati Lembah Harau. Pemandanganya indah banget guys, aku agak menyesal, kenapa sebelumnya ak ga menyempatkan buat stay di Lembah Harau meski cuma semalam. Yah, sekarang aku cuma bisa kasih saran buat kalian, jangan sampai kalian melewatkan Lembah Harau, daripada kalian nyesel kayak aku. Selain melewati Lembah Harau, aku juga melewati Kelok 9. Infrastruktur yang sudah diresmikan pada masa pemerintahan Presiden SBY ini keren banget cuy, kalian bisa juga lho berhenti di pinggiran Kelok 9 sambil menikmati jajanan lokal dan menikmati viewnya yang kece abis.

Nah, cukup sekian ya guys cerita pengalaman jalan – jalanku di Sumatera Barat. Sebenarnya masih banyak lagi tempat di Sumatera Barat yang bisa kita kunjungi, namun mengingat budget dan waktu yang terbatas, ak ga bisa mengexplore semua tempat tersebut. Mungkin suatu saat nanti jika aku punya budget dan waktu yang berlebih, aku akan kembali ke Tanah Minang. Yups! Sumatera Barat, tanah para intelektual dan surga pemandangan alam yang melimpah akan selalu menjadi kenangan yang tak kan pernah kulupakan.

Ringkasan tempat-tempat yang aku kunjungi selama Nge-Trip di Sumatera Barat.

  1. Museum Imam Bonjol
  2. Jam Gadang
  3. Rumah Kelahiran Muhammad Hatta
  4. Benten Fort De Kock
  5. Jembatan Limpapeh
  6. Lobang Jepang dan Ngarai Sianok
  7. Desa Kapau
  8. Istana Pagaruyung
  9. Pacu Jawi di Tanah Datar
  10. Danau Maninjau
  11. Rumah Kelahiran Buya Hamka
  12. Museum Adityawarman
  13. Masjid Raya Sumatera Barat

Apabila kalian ingin mengetahui seluruh cerita rangkaian perjalananku di Pulau Sumatera, kalian bisa baca artikel-artikel  di bawah ini ya guys.

  1. Rute Perjalanan menuju Ciptagelar
  2. Naik Bus dari Jakarta ke Aceh
  3. Tips Wisata ke Sabang Ala Backpacker
  4. Backpackeran Keliling Sumatera Utara

And Just FYI, saat artikel ini selesai ditulis, hampir semua foto-fotoku selama Backpackeran Keliling Sumatera Barat hilang karena keteledoranku sendiri. Nah, sebagian besar foto yang aku upload disini adalah milik temanku yang kukenal waktu di Bukittinggi namanya Bang Adek, dan aku sudah minta ijin kepadanya untuk ak upload disini. Ini IG nya: @the_adekfirdaus_gallery.

Apabila masih ada pertanyaan yang ingin ditanyakan, kalian bisa bertanya lewat kolom komentar atau bisa juga kontak aku di IG : @tintarya. Selama ada waktu senggang, aku pasti akan balas pertanyaan kalian.

See you in the next article guys!

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here