Trip Keliling Sumatera Utara!! dari Medan hingga Nias

0
193
Keliling Sumatera Utara

Hi guys, di artikel kali ini aku ingin berbagi pengalaman kepada kalian tentang Perjalanan Keliling Sumatera Utara ala Backpacker. Sebenarnya trip ini bukanlah sebuah ‘single trip’ melainkan rangkaian perjalanan Keliling Indonesia yang kunamakan Backpacker Keliling Indonesia. Namun, rangkaian trip ini belum selesai ya guys. Setelah selesai mengelilingi Pulau Sumatera, aku harus kembali ke Jogja buat kerja ngumpulin modal lagi, persiapan buat trip berikutnya. Planning nya sih mau explore Borneo. Nah untuk trip borneo sebenarnya akan kumulai Maret 2020. Tapi kebetulan pas bulan itu pecah isu pandemi corona. Jadinya ga tahu lagi kapan aku bisa melanjutkan perjalanan, keburu habis lagi modal trip ku gara gara si korona ini, huhuhu.

Nah, trip ku di Pulau Sumatera ini sudah aku mulai sejak Februari 2019. Sebelum mengelilingi Sumatera Utara, aku sudah meng-explore provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terlebih dahulu. Cerita perjalanannya bisa kalian baca di Tips Wisata Ke Sabang Aceh Ala Backpacker. Dan apabila kalian mau ke Sumatera Utara Naik Bus, kalian bisa baca ceritanya di : Naik Bus dari Jakarta ke Medan. Oiya, aku ingetin dulu ya guys, artikel ini bakalan panjang, kalo perlu bacanya sambil ngopi, hehehe.

Awal Mula Cerita Keliling Sumatera Utara.

Setelah puas mengelilingi Pulau Weh dan Kota Banda Aceh, akhirnya aku melanjutkan perjalanan kembali ke Medan. Dari Banda Aceh ke Medan aku naik Bus Putra Pelangi, bus yang sama yang membawaku dari Jakarta ke Banda Aceh. Kalo kalian baca artikelku yang Naik Bus dari Jakarta ke Aceh, di situ ak cerita kalo ak dapat bus yang kurang bagus, nah Bus Putra Pelangi yang di trayek Sumatera ini keren-keren bro, nyaman abis pokoknya.

Dari Banda Aceh sebenarnya ak mau singgah di Lhokseumawe terlebih dahulu karena ada kawan satu bus di perjalanan Jakarta – Aceh yang menawariku buat stay di sana. Eh, pas nyampai di terminal Lhokseumawe, dia bilang kalo aku ga bisa stay di rumah dia, katanya beberapa hari lalu ada kasus orang-orang yang tertangkap karena narkoba, jadi orang-orang di kampungnya curiga kalo ada orang asing yang mau menginap di daerah mereka. Terus opsinya, dia menawariku buat stay di hotel, dan besoknya baru mau diajak keliling Kota Lhokseumawe. Ah, pikirku aku lanjut aja perjalanan langsung ke Medan, soalnya penginapan di Lhokseumawe waktu itu paling murah 200ribuan, dan bagiku sudah ‘out of budget’.

Bukannya aku mental gratisan ya guys, tapi emang Lhokseumawe ini tidak masuk dalam itinerary perjalananku, dan ak harus hemat budget karena perjalanan keliling Sumatera ini masih panjang. Aku mau singgah di sana karena ingin menghormati ajakan kawanku yang baru kukenal itu. Akhirnya, setelah berbasa-basi di Terminal Lhokseumawe, aku lanjut lagi naik Bus Putra Pelangi untuk menuju ke Medan.

Keliling Kota Medan, Sumatera Utara

Sesampainya di Kota Medan, aku langsung cari hostel termurah lewat aplikasi. Dan ketemulah hostel Empire Inn, waktu itu harganya cuman 50 ribuan. Dari pool bus Putra Pelangi ak naik ojol buat kesana. Untungnya sama Ibu Owner hostel, aku diijinin buat early check in, meski seharusnya belum waktunya, dan tanpa biaya tambahan.

Setelah tidur sebentar karena kecapekan semalaman di Bus, aku langsung mengunjungi Ucok Durian. Yups, orang bilang, kalo ke Medan ga nyobain Ucok Durian, itu tandanya kalian belum ke Medan. Ucok Durian ini pernah juga dikunjungi oleh Presiden SBY dan Jokowi loh. Waktu itu ak cobain durian yang 75 ribu. Mantep cuy, gede dan manis banget. Mereka kasih garansi kok, kalo rasanya ga manis, duriannya bisa kita ganti, mantep kan?

Ucok Durian dalam perjalanan Keliling Sumatera Utara

Sehabis menyantap durian hingga tenaga terasa full kembali, ak lanjut perjalanan ke Istana Maimun. Istana Maimun termasuk salah satu Ikon Kota Medan ya guys. Istana ini dibangun pada tahun 1888 pada masa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid. Uniknya, istana ini memiliki gaya perpaduan antara Melayu, Eropa dan Hindia. 

Di Medan aku emang ga mengunjungi banyak tempat. Selepas dari Istana Maimun, Ak cuma keliling kota pake ojol, waktu itu ojol masih banyak promo cuy, kemana-mana murah, kadang per trip cuman bayar seribu rupiah, wkwkwkwk. Nah, dengan keliling Ibu Kota Sumatera Utara ini, aku mau membuktikan kalo Medan memang menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Dan yups, gedung-gedung pencakar langit di Medan emang ga kalah banyak sama kota – kota besar di Pulau Jawa, ga kayak bayanganku sebelumnya, hehehehe.

Niatnya aku cuma mau stay di Medan semalam aja, besoknya baru lanjut ke Danau Toba. Eh, pas habis checkout, aku malah kepikiran buat stay lagi di Medan. Dan setelah cek di aplikasi, ak nemu Uno Capsule Hotel. Lokasinya di deket Lapangan Merdeka. Tepat di jantung kota Medan. Nah lapangan merdeka itu ibarat alun-alun kota kalo di Jawa. Di sekitaran Lapangan Merdeka ini banyak terdapat bangunan-bangunan bersejarah seperti Kantor Pos, Bank Indonesia dan Stasiun Kota Medan yang sudah dibangun sejak Jaman Belanda.

Kalo malam, kalian bisa hunting kuliner juga loh di sekitaran Lapangan Merdeka ini, namanya Merdeka Walk. Di sini kuliner asli Sumatera Utara cukup lengkap. Merdeka Walk ini juga dikenal sebagai tempat nongkrong favorit anak-anak Medan. Pastikan kalian datang kesini guys, siapa tahu kalian bisa dapat gebetan di sini, hehe.

Lanjut Perjalanan Keliling Sumatera Utara Dari Medan Menuju Danau Toba

Hari kedua di Uno Capsule Hostel, ak ga kemana-mana, cuma main PS seharian di hostel sama kawan yang baru ketemu, namanya Ginting. Eh, yang tadinya ak mau stay di Medan 1 malam doang, malah jadi molor jadi 3 malam. Gapapa lah, yang penting penginapannya ga lebih mahal dari seratus ribu, budgetku masih aman, wkwkwkwk. 

Setelah check out, ak mau melanjutkan perjalanan menuju ke Danau Toba. Ak tanya dulu cara menuju Danau Toba ke mbak-mbak receptionist yang manis, dan mereka ngasih tahu caranya untuk naik Bus Sejahtera dari Terminal Amplas. Kebetulan pas check out, ada kawan dari Finland, namanya Henry, yang  mau menuju ke Danau Toba juga. Akhirnya kita putusin buat pergi bareng kesana. Mayan lah cuy, ada kawan buat sharing selama perjalanan naik bus sekitar 4 jam. Nah yang paling gw suka dari trip backpackeran itu emang journeynya guys, bukan destinasinya. Dimana selama perjalanan kita bisa ketemu orang-orang baru dari berbagai macam ras dan suku bangsa, dan kita bisa saling bertukar pikiran. 

Oh ya, untuk cerita lengkap perjalanan naik busnya, kalian bisa baca di artikel ini ya, Bus from Medan to Lake Toba. Sorry cuy pake bahasa Inggris, hehehe.

Explore Pulau Samosir, Toba, Sumatera Utara

Aku tiba di Danau Toba sudah sekitar Magrib. Danau Toba yang aku maksud ini di Pulau Samosirnya ya guys, tepatnya di daerah Tuk Tuk. Untuk menuju kesini, kalian harus naik ferry dari Pelabuhan Parapat. Di Tuk tuk,  aku stay di Bagus Bay Homestay. Lokasinya tepat di Pelabuhan tempat kapal ferry bersandar. Jadinya cukup menghemat waktu lah, karena ga perlu jalan jauh dari pelabuhan. Tarif per malamnya waktu itu juga cuma 70 ribu, single room pula, bukan dormitory ya cuy.

Kebetulan si Henry juga booking di Bagus Bay Homestay, ditambah 1 kawan lagi dari Ukraina yang ketemu di Bus, namanya Art. Kami bertiga menghabiskan malam buat main bilyard sambil sharing pengalaman traveling masing-masing. Di sharing session tersebut aku kadang iri sama orang-orang barat, karena mereka mau meng-explore Indonesia melebihi orang Indonesia sendiri.

Emang selama aku backpackeran di Sumatera, seperti di Sabang, Toba dan Nias, aku lebih sering ketemu turis asing daripada turis lokalnya sendiri. Makanya, melalui tulisan ini aku juga mau ngomporin kalian buat selalu membudayakan traveling, biar wawasan kita bertambah guys. Soalnya, kadang aku sedih cuy, di negara-negara barat sana, Indonesia masih di cap sebagai Negara Dunia Ketiga, karena mindset orang-orang kita emang jauh ketinggalan, bahkan kalah jauh dengan mindset negara tetangga Malaysia sekalipun, huhuhu. Aku yakin, dengan membudayakan traveling dan membaca, negara kita bisa semakin maju kedepanya. (Eh, gw kok sok-sokan jadi motivator ya?hehehe)

Ok ak lanjutin lagi nih ceritanya. Pagi harinya sekitar jam 8 kita janjian buat explore Pulau Samosir. Nah, pas banget, persis di depan Homestay ada penyewaan motor. Per motor 70 ribu. Ak boncengan sama si Henry, dan Art pake motor sendiri. 

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah air terjun yang ga jauh dari homestay. Sory guys, ak lupa nama air terjunya, di Toba emang banyak banget sih air terjunya. Nah, air terjun yang pertama kami kunjungi ini emang lokasinya agak tersembunyi, perlu hiking sekitar 30 menitan dari tempat parkir motor buat sampai ke sana. Jujur aku sampai muntah ngikutin gaya jalan cepat orang-orang eropa ini. Maklum mereka rajin minum susu, sedangkan gw cuman rajin minum air putih doang cuy, huhuhu. 

Ga banyak wisatawan datang ke air terjun ini, dan sayangnya pas kita dah sampai air terjun, debit airnya dikit, karena pas musim kemarau. Tapi view dari atas air terjun keren banget, lumayanlah ga percuma juga gw hiking 30 menit sampai muntah segala,wkwkwkwk.

Mengunjungi Batak Museum di Toba Samosir.

Setelah kelar dengan air terjun, kita lanjut perjalanan lagi ke Batak Museum di daerah Tomok. Di museum ini kita bisa menyaksikan kehebatan sejarah Bangsa Batak pada masa lampau. Ada bukti-bukti artefak peninggalan raja-raja batak yang sudah berusia ratusan tahun. Ga jauh dari Museum Batak, kalian juga bisa melihat Patung Sigale-gale. Sigale-gale ini adalah sebuah patung kayu yang bisa bergerak. Pertunjukan tari Sigale-gale merupakan salah satu pertunjukan paling populer di Toba Samosir. Tapi sayang, pas kita kesana, kita cuma bisa foto sama patungnya doang, tanpa ada pertunjukan, huhuhu.

Selesai dari Batak Museum, kita kembali melanjutkan perjalanan mengelilingi Samosir. Tau ga guys? Bayangan gw dari SD pas pelajaran IPS, Pulau Samosir ini kecil, bisa dikelilingi dengan jalan kaki, tapi ternyata ak salah cuy. Ternyata Danau Toba dengan Pulau Samosirnya ini hampir sama luasnya dengan Singapura. Mustahil kalian bisa keliling Samosir dengan jalan kaki seharian,wkwkwk. Di perjalanan kita berhenti di sebuah pantai. Masuk ke pantainya gratis, dan sekali lagi ak lupa nama pantainya, tapi tenang aja, di sepanjang perjalanan ada banyak pantai yang bisa dikunjungi kok. 

Nah, tanpa babibu, ak dan temanku ini langsung nyemplung merasakan sensasi segarnya air di Danau Toba. Tapi hati-hati bagi kalian yang ga bisa berenang ya guys. Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti seberapa dalam Danau Toba ini. Dan ga lama sebelum ak sampai di Toba, ada berita jika ada ferry yang tenggelam yang menyebabkan banyak orang meninggal. Jadi sekali lagi aku saranin buat hati-hati, jangan asal nyemplung ya cuy.

Mampir di Hot Spring di Danau Toba.

Setelah puas berenang, kami lanjut perjalanan ke Hot Spring di daerah Pangururan. Lokasi Hot Spring ini sudah di luar Pulau Samosirnya ya guys. Lokasinya sudah berada di daratan Pulau Sumatera. Nah di sisi Barat Pulau Samosir ini emang ada jembatan yang menghubungkan antara Pulau Samosir dan Pulau Sumatera jadi ga perlu nyeberang pakai ferry. As you know guys, Hot Spring di Danau Toba ini juga menjadi salah satu penanda bahwa dulunya Danau Toba adalah sebuah gunung berapi (Volcano). Kalian juga bisa kok merasakan sensasi mandi di air panas alami di hot spring ini. Banyak warga lokal di sana yang membuka usaha pemandian air panas alami ini. 

Foto dari bawah Hot Spring, numpang di atap rumah warga yang masih dibangun

Selesai mengunjungi hot spring, kami melanjutkan perjalanan ke Menara Pandang Tele. Tapi sayang banget guys, waktu kita sampai sana cuaca sudah mendung, padahal paginya cerah banget, jadi kita ga bisa melihat view yang uWow dari menara pandang ini. Yah, ga apalah, mau gimana lagi, kita emang ga bisa menentang kehendak alam.

Backpacker Keliling Sumatera Utara
View Danau Toba yang mendung

Ga jauh setelah turun dari Menara Pandang Tele, kami melihat ada air terjun yang tampak dari kejauhan. Tanpa berpikir panjang, kami langsung menuju air terjun tersebut. Debit air terjun yang ini lebih besar daripada air terjun yang kami kunjungi sebelumnya. Pakaian kami sampai basah dibuatnya karena memaksakan diri buat foto dari dekat.

Keliling Danau Toba, Keliling Sumatera Utara
Air terjun ga jauh dari Tele (lupa namanya)

Setelah puas menikmati perjalanan seharian, kami putuskan buat kembali ke hostel. Jalur yang kami lewati waktu pulang berbeda dengan jalur yang kami lewati sebelumnya. Yang tadinya lewat lingkar luar Pulau Samosir berjalan berlawanan dengan arah jarum jam, sekarang kami putuskan untuk lewat jalur tengah memotong diameter Pulau Samosir. 

Di perjalanan membelah Pulau Samosir ini kami terheran-heran. Sebagaimana yang kita tahu, Samosir itu terletak ditengah danau yang berada di dalam Pulau Sumatera. Nah, di perjalanan, kita melihat ada danau juga di tengah Pulau Samosir yang di dalam danau itu juga ada pulaunya. Bingung ga kalian bayanginya? hehehe.

Perjalanan membelah Samosir ini emang ga kalah seru sama perjalanan melewati keliling luarnya. Apalagi pas kita lewat sana, hari sudah mulai gelap, dan di sepanjang jalan jarang sekali kita berpapasan sama pengendara lain, tanpa diterangi cahaya lampu jalan pula. Aku sampai merindink karena saking gelapnya, dan kiri kanan masih didominasi hutan, hanya sesekali melewati rumah penduduk.

Huffft, setelah perjalanan membelah hutan yang ngeri-ngeri sedap, akhirnya kita sampai juga di homestay. 2 kawanku lanjut ngurusin kerjaan mereka, Si Art ini emang kerjaannya bisa remote, kerjanya sambil traveling tanpa perlu datang ke kantor setiap hari. Dan si Henry harus ngurusin tugas kuliahnya, dia kuliah di Singapura. Sedangkan ak sendiri lanjut sharing cerita dengan orang Jerman yang sudah menetap lama di Samosir. Nah katanya si Orang Jerman ini bisa sampai ke Samosir dengan cara nebeng selama 2 tahun dari rumahnya di Jerman. Gila batinku! Tapi moment-moment seperti inilah yang menjadi favoritku setiap backpackeran. Jadi banyak tahu cerita yang aneh-aneh,hehehe.

Melanjutkan perjalanan Trip Keliling Sumatera Utara ke Sidikalang, surganya Kopi asal Sumatera Utara.

Trip Keliling Sumatera Utara dari Danau Toba ke Sidikalang
Dengan Henry dan Art, lanjut ke Sidikalang

Nah, dari obrolan-obrolan sebelumnya, kita jadi saling tahu kalo kita bertiga adalah coffee lovers. Yups, kebetulan kami bertiga selalu ingin merasakan rasa kopi lokal setiap traveling. Akhirnya setelah check out kita putuskan buat pergi ke Sidikalang. 

Dari homestay kami harus jalan kaki sekitar 1 KM untuk menuju jalur yang dilewati angkutan lokal. Setelah dapat angkot, kita harus menuju ke Pangururan. Nah dari Pangururan baru banyak terdapat agen travel buat lanjutin perjalanan ke kota-kota lain di Sumatera Utara. Tiket travelnya cuma 45 ribu buat menempuh perjalanan sekitar 2 jam untuk menuju Sidikalang. Eit jangan bayangin , mobil travelnya macam Innova atau at least Avanza ya, travel di sekitaran Samosir ini kebanyakan didominasi Mobil Colt Diesel tahun 90an. Yah ga apalah, inilah serunya backpacking, bisa merasakan sensasi jadi warga lokal di banyak tempat, uyeee.

Angkutan umum di Sumatera Utara
Angkutan antar daerah di Sumatera Utara (Sumut)

Ngopi dan Nginep di Noxi Coffee and Roastery di Sidikalang, Sumut

Sesampainya di Sidikalang kami langsung masuk ke sebuah cafe shop yang ga jauh dari tempat pemberhentian travel. Tapi di cafe itu, kami kurang puas, kopi yang kami rasakan belum sesuai ekspektasi. Akhirnya si Art cek di Google Maps, dan langsung nemu cafe shop berikutnya, namanya Noxi Coffee and Roastery. Di coffee ini kami baru merasakan kopi yang kami inginkan. Kami order hampir semua jenis kopi yang ada di cafe itu. It was really satisfying, ga percuma lah merelakan waktu jauh-jauh pergi ke Sidikalang buat merasakan kopi aslinya.

Ngopi di Sidikalang, Trip Keliling Sumatera Utara
Ngopi di Noxi Coffee and Roastery

Sore hari sekitar pukul 4 jadi perpisahanku dengan Henry dan Art, mereka mau lanjut perjalanan ke Bukit Lawang, sedangkan aku sendiri mau lanjut trip ke Nias. Sedih juga rasanya cuy! Meski baru kenal 2 hari, tapi kami bener-bener udah kayak teman dekat meski berbeda kebangsaan, huhuhu.

Setelah nganter mereka di agen travel, aku mau lanjut perjalanan ke Sibolga. Tapi waktu itu karena sudah sore hari, aku pikir juga mustahil buat ngejar Kapal Ferry di Sibolga buat nyeberang ke Nias, akhirnya aku putuskan buat stay di Sidikalang saja. Sebenernya ak mau cari penginapan yang di deket cafe, eh malah Mas Hendra, owner dari Noxi Coffee ini menawariku buat stay semalam di cafe saja. “Yah lumayanlah, bisa hemat biaya penginapan”, pikirku.

Kawan-kawan yang suka nongkrong di cafe ini juga baik-baik semua guys. Ak sampai dibeliin makan malam dan sarapan. Pokoknya aku ga akan lupa sama kebaikan mereka. Sengaja aku ingin membalas budi kawan-kawan di Sidikalang dengan menulis pengalaman ngopi ini, semoga diantara kalian yang membaca artikel ini, ada yang mau mampir ke Sidikalang buat ngopi di Noxi Coffee and Roastery, atau at least follow IGnya.

Trik Keliling Pulau Sumatera
Mas Hendra, IG : @hendra_moelyadi, @noxicoffee

Trip Keliling Sumatera Utara berlanjut ke Pulau Nias.

Setelah dibikinin kopi sehabis sarapan. Jam 12 siang aku pamit sama Mas Hendra dkk, buat pergi ke Sibolga, kota penyeberangan ferry menuju Nias. Dari Sibolga sebenarnya ada angkutan langsung menuju Sibolga. Tapi ak pilih buat stop di Siborong-borong. Alasan gw stop di Siborong-borong sebenernya agak konyol sih. Cuman mau foto di taman yang ada tulisanya Siborong-borong, karena pas ak ngetrip keliling Sumatera Utara ini, lagu makan daging anjing dengan sayur kol lagi viral, hehehehe.

Setelah makan daging anjing di Siborong-borong, eh kepleset nulis, maksudku setelah makan ayam di Siborong-borong, aku lanjut perjalanan ke Sibolga. Sebelum sampai Sibolga ini aku lewat terowongan yang unik, bisa dibilang terowongan maut, terowongan ini cuma bisa dilewati kendaraan dari 1 arah, jadi dari arah lainnya harus nunggu gantian. Katanya jalan ini jadi jalan satu-satunya buat menuju Sibolga dari arah Danau Toba.

Dari tempat pemberhentian travel, aku lanjut naik becak buat menuju pelabuhan. Tau ga guys? Pas aku sampai pelabuhan sekitar jam 10 malam. Loket penjualan tiket sudah tutup, tapi kapal waktu itu belum berangkat. Jadi ak paksa petugas pelabuhan, pokoknya ak bilang ga mau tahu gimana caranya aku bisa masuk kapal. Akhirnya dengan sikap lapang dada (mungkin terpaksa ya, hehe) ada Sang Petugas yang mau mengantar naik motor dari pintu gerbang pelabuhan sampai pintu kapal. Kenapa pakai motor? Soalnya jarak dari gerbang pelabuhan sampai pintu kapal sekitar setengah kiloan, ga akan kekejar kalo jalan kaki, karena kapal sudah mulai melepas tali dan meniupkan klakson sebagai tanda bahwa kapal siap berangkat.

Pas aku sampai, kapal sudah mulai sedikit bergerak dan pintu kapal sudah mau ditutup. Itupun bukan pintu buat penumpang melainkan pintu masuk kendaraan bermotor. Nah, tanpa rasa takut, akhirnya ak melompati pintu yang sudah mulai terangkat kira-kira 10 CM. Kalo gagal aku bisa apes nyemplung ke laut. Pokoknya kalo divideoin, bisa kayak Jason Statham di film-film aksinya. Dah kebut-kebutan di pelabuhan, masih ada drama pakai lompat-lompatan segala, hehehe. Nah, bagi kalian yang belum pernah naik kapal ferry tipe RoRo, pasti kalian bingung bayangin, gimana ada pintu yang bisa dilompatin, makanya ke Nias biar tahu bentuk pintu yang ak lompatin, wkwkwkwkwk.

Ketika sudah masuk kapal, ada drama selanjutnya. Ada banyak mata yang menuju ke arahku, hingga tanpa kusadari ada seorang cadet di kapal yang bertanya, “tiketnya mana bang?”. “Mampus batinku!” Tapi apa gunanya lah kita hidup di Indonesia, ak langsung aja bilang, “bayar cash disini aja ya bang?” . Mungkin karena ga ada opsi lain, aku dibolehin bayar di atas kapal. Kalo ga boleh, masak iya ak mau dicemplungin ke laut, hehehe. Akhirnya ak bayar 100 ribu dan dapat kelas yang VIP. Kalo beli tiket di pelabuhan malah bisa lebih mahal katanya, wkwkwkwk.

Pulau Nias, persinggahan terakhir trip keliling Sumatera Utara ini.

Perjalanan dari Sibolga menuju Nias ini memakan waktu sekitar 12 jam. Untungya ak dapat kelas yang VIP, jadi bisa tiduran di matras yang empuk dan dingin ber-AC. Kalo kelas yang biasa, udah kayak pasar bro tempatnya, kalo ga cepet, bisa-bisa kita tiduran di lantai. Walaupun kalo ak di kelas reguler juga dah siap mental juga sih, hehehe.

Sekitar jam 10 pagi ak sampai di Pelabuhan Gunung Sitoli, Nias. Di pelabuhan ak singgah di warung untuk sarapan dan sekalian nanya gimana caranya buat ke Teluk Dalam. Kata pemilik warung, jalan satu-satunya harus pesan travel dan sama beliau langsung ditelponkan agen travel buat pergi ke Teluk Dalam. Jarak Gunung Sitoli ke Teluk Dalam ini sekitar 100 KM.

Jalan jalan di Nias
Singgah di Warung deket Pel. G.Sitoli, jual masakan halal.

Di perjalanan mobil selama 2,5 jam-an, ak kenalan sama cewek asli Nias, anaknya manis khas Nias cuy. Menurutku, Nias ini menajadi salah satu ras nusantara penghasil wanita cantik selain Aceh maupun Manado guys, hehehe. Singkat cerita dia tanya ak, “ke Nias mau ngapain?” Ak bilang kalo ak sedang dalam trip Keliling Sumatera. Dan ak nanya ke dia, apa bener kalo mau selancar di Nias, tempat terbaiknya di Teluk Dalam? Eh, ternyata aku salah, katanya tempat yang terkenal buat selancar itu di Pantai Sorake. Teluk Dalam itu nama kecamatannya, nah dari pusat kota di Teluk Dalam masih harus jalan naik mobil lagi sekitar 10 KM. 

Akhirnya, ak dianterin Sang Driver ke penginapan milik saudaranya di Pantai Sorake. Harganya cuman 100rb per malam, lokasinya tepat di pinggir pantai. Yah karena kecapekan, hari itu ak ga ngapa-ngapain cuman tiduran dan jalan-jalan di sekeliling homestay doank.

Ikon Pulau Nias, Sumatera Utara

Trip Keliling Nias, Backpacker ke Nias
Tradisi lompat batu di Nias yang masih terjaga

Kalo kalian masih kelahiran 90an ke bawah, kalian pasti ingat pecahan uang seribu rupiah yang ada orang sedang lompat batu. Nah lompat batu itu adalah tradisi asli di Pulau Nias. Lokasi buat lompat batu inilah yang menjadi tujuan utamaku. Cerita lompat batu itu bermula ketika jaman dahulu sering terjadi peperangan antar suku di Pulau Nias. Setiap desa disana membangun benteng agar suku lain tidak bisa masuk ke dalaam wilayah mereka. Nah lompat batu ini bermula ketika ada salah seorang kepala suku yang memerintahkan para anak muda di desanya untuk mencoba melompati batu setinggi benteng-benteng musuh. Sebagai persiapan perang menembus pertahanan musuh.

Lokasi yang masih menjalankan tradisi lompat batu ini berada di Desa Bawomataluo. Ga cuma lompat batunya, view dari desa Bawomataluo ini juga amazing lho guys. Di desa ini kalian juga bisa liat rumah-rumah khas warga Nias. Dan masih ada juga rumah kepala suku yang sudah berumur ratusan tahun dan masih terawat sampai sekarang. 

Cara terbaik untuk explore Nias adalah dengan sewa motor, karena ga ada angkutan umum di Nias ini. Waktu itu pas mau sewa motor, eh malah ak sekalian dianter keliling sama pemiliknya, bayarnya sama dengan harga sewa motornya saja. Semacam dapat local guide gratis ceritanya. Setelah selesai di Desa Bawomataluo, ak diantar sama beliau ke air terjun.

Lokasi air terjun ini cukup tersembunyi, dan emang bukan tempat tujuan wisata. Dan karena beliau tahu ak muslim, aku juga diajak beliau cari makan siang di Teluk Dalam di warung makan halal. As you know guys, mayoritas penduduk Nias beragama nasrani, jadi bagi kalian yang muslim, harap berhati-hati kalo mau cari makan ya.

Sekali lagi aku mau berterimakasih sama Bapak Pemilik Motor karena sudah rela mengantar ke banyak tempat di sekitaran Teluk Dalam ini. Sebenernya buat balas budi, ak mau rekomendasiin nomor HP pemilik motor ini ke kalian, siapa tahu kalian juga mau sewa motor di Nias, namun sayang, nomor hapenya kehapus cuy, huhuhuhu.

Hari-hari terakhir di Nias, Sumatera Utara

Hari kedua di Nias ak kehabisan uang cash, apesnya, di sekitaran Pantai Sorake ga ada mesin ATM. Setelah tanya warga lokal, jalan satu-satunya hanyalah dengan cara gesek tunai di salah seorang warga Pantai Sorake. Namanya adalah Mama Invo, owner dari Shady Palm Beach Homestay. Keapesanku yang kehabisan uang cash di daerah antah berantah ini justru jadi anugerah bagiku.

Ceritanya setelah dapat uang cash, aku berbasa-basi sama Mama Invo. “Kok homestaynya ga ada di aplikasi pemesanan ya bu? Padahal nyaman banget lho tempatnya.” Akhirnya Mama Invo bilang ke aku, “Saya ga bisa caranya buat masukin ke aplikasi, kalo adik bisa, tolong masukin Homestay ini di aplikasi, nanti kami kasih gratis nginep beberapa hari di sini.” Wah rejeki nomplok ini, batinku dalam hati, hehehe. Akhirnya ak coba masukin Shady Palm Beach ini di aplikasi booking.com yang lebih populer bagi turis asing dan juga sudah terafiliasi dengan agoda.com.

Singkat cerita aku berhasil membuat Shady Palm Beach Homestay masuk di aplikasi. Kalo kalian klik link Shady Palm Beach ini, kalian akan liat buah karyaku, hehehe. Setelah itu, ak langsung pindah tempat dari penginapan sebelumnya ke Shady Palm Beach, yang kalo bayar harusnya lebih dari 2 kali lipat, karena fasilitasnya lebih lengkap, hehehe.

Sebelumnya aku pikir, karena ak bisa tinggal lebih lama di Nias GRATIS, keinginanku buat belajar selancar mungkin bisa terwujud. Eittsss ternyata aku salah guys, ombak di Pantai Sorake ini ga cocok buat pemula, cocoknya buat pemain Pro. Bahkan Pantai Sorake ini hampir tiap tahun masuk ke dalam kalender World Surf League (WSL) Pro. Bahasa jawanya, Liga Selancar Dunia, keren kan guys?

Keliling Sumatera
Ombak jadi mainan anak-nak Nias

Saying Good Bye to Nias…

Yah, setelah tinggal 3 malam gratis di Shady Palm Beach. Akhirnya aku harus pamitan sama Mama Invo dan keluarganya buat melanjutkan perjalanan ke ranah minang. Keluarga Mama Invo ini sangat baik guys, aku dibolehin tinggal di Homestay mereka sampai kapan pun aku mau, bahkan aku juga dipenjemi motor gratis buat keliling Pulau Nias. Maka dari itu ak saranin kalian buat nginep di Shady Palm Beach kalo ke Nias ya.

Keliling Nias
Pamitan sama Mama Invo dan putrinya

Perjalanan Keliling Sumatera Utara (Sumut) ini akan selalu menjadi kenangan yang manis buatku. Dimana disini ak bisa bertemu orang-orang baik yang tanpa memandang aku dari mana, dari suku apa dan beragama apa. Mungkin di artikel ini aku ga banyak cerita detail tentang destinasi-destinasi wisata di Sumatera Utara, aku justru lebih banyak cerita tentang pengalaman perjalanannya. Tapi, aku tetap berharap, semoga artikel ini bermanfaat bagi kalian, siapa tahu ada diantara kalian yang mau menjalani rute seperti yang sudah ak lalui. 

Aku juga akan mencantumkan estimasi budget perjalananku. Mungkin tidak 100 % tepat, tapi semoga bisa sedikit jadi patokan buat kalian nantinya. 

Budget Trip Keliling Sumatera Utara 

Oke, di akhir artikel ini, aku ingin lampirkan estimasi budget Trip Keliling Sumatera Utara ini. Budget ini ga 100 persen benar ya guys, soalnya dulu aku lupa mencatat semua pengeluaran dalam Trip Keliling Pulau Sumatera ini. Tapi garis besarnya masih banyak yang aku ingat kok.

Dalam budget yang aku lampirkan ini aku tulis pengeluaran sejak dari Banda Aceh sampai hari terakhir di Nias hingga menyeberang kembali Ke Kota Sibolga. Nah jika kalian dari lokasi lain, semisal Jakarta atau Makassar, pastinya budget transportasi kalian akan berbeda, dan kalian juga harus tambahkan budget setelah dari Nias mau lanjut perjalanan kemana lagi, mau naik ferry atau naik pesawat. Untuk budget makan dan kebutuhan per hari seperti ngopi di cafe, masuk tempat wisata, dll, aku tulis 100 ribu. Ada kalanya itu sisa, ada kalanya kurang, jadi aku pakai sistem subsidi silang dalam budget setiap harinya ini. Untuk budget milik kalian, bisa kalian tentukan sendiri besaran nominalnya, kalian sendiri yang tahu seberapa hemat atau royal tiap kali traveling.

Trip Keliling Sumatera Utara

Okay sekian dulu cerita Trip Keliling Sumatera Utara ala Backpacker ini guys. Apabila kalian masih ingin bertanya seputar trip ini, kalian bisa langsung kontak aku di IG : @tint_arya atau di FB : Tinton Arya Sasmita. Selama ak lagi ga ada kerjaan, aku selalu usahakan balas setiap chat yang masuk kok. Dan bagi kalian yang ingin tahu tips hemat Keliling Asean ala Backpacker dengan budget 5 jutaan dari Singapura, Malaysia hingga Thailand via jalur darat, kalian bisa baca artikelku yang ini ya : Trip Keliling Asean, 3 Negara Naik Bus!!(jalur darat)

See you in the next article guys!



Halo teman-teman, saat ini kalian juga bisa ikut support blog Alabackpacker.com agar terus berkembang dengan konten-konten bermanfaat lainnya dengan cara klik iklan yang ada di artikel ini, cukup 1 iklan saja. Atau dengan cara booking segala kebutuhan traveling kalian melalui link afiliasi yang tertera di bawah ini :

Kami ucapakan terimakasih yang sebesar – besarnya karena kalian bersedia membaca artikel Trip Keliling Sumatera Utara ini sampai akhir. Semoga bermanfaat ya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here