Rute Ke Kasepuhan Adat Ciptagelar dari Jakarta

8
2227
Kasepuhan Adat Ciptagelar
Kasepuhan Adat Ciptagelar

Nama Kasepuhan Adat Ciptagelar mungkin belum setenar Kampung Adat Suku Baduy maupun Kampung Naga di Tasikmalaya. Namun, Kasepuhan Adat Ciptagelar tetap memiliki keunikan tersendiri, sebuah adat budaya tradisional yang masih terjaga sejak enam abad yang lalu.

Kunjunganku menuju Kasepuhan Adat Cipta Gelar adalah salah satu rangkaian perjalanan dalam menjelajah negeri ini, sebuah perjalanan yang kunamakan Backpacker Keliling Indonesia. Yups, kunjungan ke Ciptagelar memang sudah ada dalam bucket list yang kubuat beberapa bulan sebelum aku memulai perjalananan.

Rute yang harus ditempuh ke Ciptagelar dari Jakarta…

Aku sendiri mengawali perjalanan menuju Ciptagelar dari Bekasi. Dari rumah saudaraku aku naik ojek online menuju Stasiun Commuterline terdekat, Stasiun Kranji. Dengan pakai kode promo jadinya aku hanya bayar ojol 2000 rupiah, dari yang seharusnya 8000 rupiah. Dari Stasiun Kranji aku menuju ke Stasiun Bogor, tarifnya 17ribu rupiah. Tapi kartu tiketnya bisa kita tukar lagi senilai 10.000 rupiah setelah sampai di Bogor, jadi ongkos perjananan dari Bekasi menuju Bogor cuma 7000 aja kok. Yang 10.000 cuma jadi jaminan biar kartu tiketnya ga hilang.

Selama kalian tinggal atau transit di wilayah Jabodetabek, opsi terbaik (maksudnya terekonomis,hehehe) menuju Ciptagelar adalah dengan menggunakan Commuterline terlebih dahulu, dengan berhenti di stasiun akhir, St.Bogor. Dari Stasiun Bogor, kita harus pergi ke Terminal Baranangsiang terlebih dahulu. Kalo mau pake angkot, pake angkot nomor 3, tarif 5000, tapi aku pilih ojol lagi, karena pakai promo lagi, jadi cuma bayar 2000rupiah.

Bis dari Bogor Menuju Pelabuhan Ratu
Bis dari Bogor menuju Pelabuhan Ratu

Sesampai di Terminal Baranangsiang, kalian tanya aja, dimana lokasi Bis yang menuju ke Pelabuhan Ratu. Tarif bisnya Ekonomi 30.000 rupiah, AC 40.000 rupiah. Karena beda 10.000 aja jadinya aku pilih yang AC aja guys. Lama perjalanannya kira-kira 4 jam, kalo di google maps sih cuman 2,5 jam, yah mungkin karena jalannya pelan, dan banyak berhenti, jadinya perjalanannya molor dah, aampuun.

Baca juga : Cerita naik bus dari Jakarta ke Aceh

Baca juga : Nonton F1 di Kuala Lumpur

Baca juga : Jalan – jalan di Monaco dan menelusuri keunikannya

Nginep di Homestay pinggir pantai di Pelabuhan Ratu sebelum lanjut ke Ciptagelar…

Akhirnya tiba di Pelabuhan Ratu pas waktu magrib, aku ga berani putusin buat lanjut Ke Ciptagelar. Akhirnya aku kontak temenku, namanya Ryan yang tinggal di Pelabuhan Ratu buat numpang nginep. Eit, aku ga nyangka, ternyata dia punya homestay di pinggir pantai, suasananya keren ajib. Dapat bonus banyak nih aku. Dari dalam kamar suara ombak terdengar bersaut-sautan, pikiranku terasa terelaksasi selama menginap semalam di sana.

Aku saranin juga buat kalian kalo mau berkunjung ke Pelabuhan Ratu ataupun cuma sekedar transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Ciptagelar, kalian bisa nginep di Homestay Villa Family punya temenku ini. Lokasinya di Pantai Citepus. Dari Terminal Pelabuhan Ratu naik angkot ongkosnya cuma 5000 rupiah, tapi berhubung waktu sudah magrib dan aku pengin cepet sampai, akhirnya aku naik ojek pangkalan dengan tarif 15.000 rupiah. Ini kontaknya ya guys, Ryan : +62 856 032 888 19.

Perjuangan yang sesungguhnya untuk sampai ke Ciptagelar via Sinarresmi.

Kira-kira jam 10.30 aku berangkat dari Homestay milik temenku menuju Ciptagelar. As you know guys, kalian tidak akan menemukan trayek angkot dari Pelabuhan Ratu menuju Ciptagelar. Mau ga mau kalo kalian mau pergi ke Ciptagelar ya pake kendaraan sendiri atau pake jasa ojek. Nah opsi kedualah yang kupilih. Aku gunakan jasa tukang ojek yang mengantarku dari Terminal ke Homestay karena memang sebelumnya aku sudah minta nomor telpon dia. Tadinya sih aku mau sewa motor aja biar lebih irit,tapi di Pelabuhan Ratu masih jarang penyewaan motor, kata temenku Ryan malah ga ada, karena dulunya sering kejadian, si penyewa membawa kabur motor sewaanya, jadi orang-orang di Pelabuhan Ratu pada kapok untuk menyewakan motornya.

Oke, singkat cerita aku deal harga dengan si Abang tukang ojek dengan nominal 175.000 rupiah setelah sebelumnya dia kasih harga pertama 200.000. Yah, tadinya aku pikir,”kenapa aku cuma bisa nawar 25.000 doang ya setelah negosiasi alot?” Tapi setelah memulai perjalanan aku tersadar, kenapa abang tukang ojek ini ga mau nurunin harga lagi. Medannya berat cuy.. Setelah melewati Kasepuhan adat Sinarresmi, nyaris 80% jalannya didominasi jalan batu, sudah tak beraspal lagi. Kalopun ada yang beraspal, aspalnya sudah rusak, jadi tetap serasa jalan batu.

Kondisi jalanan menuju Ciptagelar

Selama di perjalanan, kami mengalami 1 kali ban bocor dan sekali ban kempes. Kalo di google maps, perjalanan yang cuma 2 jam aja, fakta yang kualami di lapangan jadi lebih dari 3 jam kalo ditempuh dari Pantai Citepus. Kanan-kirinya hutan ataupun jurang. Makanya, siapkan fisik dan mental sebelum berangkat ke Ciptagelar, karena selama 2 jam perjalanan perut kalian akan serasa dikocok-kocok. Dan yang utama jangan lupa berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing, semoga teman-teman sekalian diberikan keselamatan untuk tiba di Ciptagelar.

Untungnya, di tengah perjalanan ada tukang tambal ban.

Kalo kalian mau dateng rame-rame naik mobil pribadi sekelas Apansa,Senia,Movilio,atopun R3, apalagi kelas yang dibawahnya, aku saranin buat mikir 10 kali. Dari gerbang untuk masuk Sinarresmi aja sudah tertulis, hanya mobil 4 WD ato mobil berpenggerak roda depan dan belakang yang boleh masuk. Mobil-mobil yang berpenggerak depan saja ato belakang saja akan kesulitan buat melewati medan KE CIPTAGELAR. Belum lagi lebar jalan yang hanya cukup untuk 1 mobil aja. Jadi lebih baik kalian naik motor sendiri-sendiri aja, motor trail lebih recomended, motor matic kayaknya masih bisa, cuman perlu banyak sabar aja kalo menurutku.

Akhirnya “Ala Backpacker” sampai juga di Kasepuhan Adat Ciptagelar cuy…

Tiba di Kasepuhan Ciptagelar dengan disambut warga.
Abang tukang ojek dan warga yang menyambut kami.

Setelah melalui perjalanan panjang dari Bekasi ke Pelabuhan Ratu dan dari Pelabuhan Ratu ke Ciptagelar, akhirnya aku sampai juga ke destinasi yang sudah ada dalam bucket list perjalanan panjang Backpacker Keliling Indonesia. Di Ciptagelar, kami langsung disambut hangat oleh warga lokal. Meski kami tidak pernah ketemu sebelumnya, kami tetap disambut hangat bak keluarga sendiri. Mereka tidak menganggap kami sebagai orang asing.

Selama di Ciptagelar aku tinggal di Imah Gede. Imah gede adalah sebuah bangunan yang menjadi tempat penyambutan bagi siapa saja yang bertamu ke Ciptagelar. Nah bagi siapa saja yang mau bermalam di Ciptagelar, kita harus minta ijin dulu sama Abah Ugi, beliau adalah Kepala Adat Kasepuhan Ciptagelar. Nah, sebelum ketemu sama Abah Ugi, kita akan diajari bagaimana caranya sungkem (salam) ke Abah, hal ini perlu kita lakukan untuk menghormati Abah sebagai Kepala Kasepuhan Adat Ciptagelar.

Manusia dan beras…

Selama tinggal di Kasepuhan Adat Ciptagelar, kalian ga perlu kuatir kelaparan, walaupun satu kampung ga ada yang jualan makanan. Beras memang tidak boleh diperjualbelikan di Ciptagelar. Mereka menganggap bahwa “Beras adalah Kehidupan”. Menjual beras berarti menjual kehidupan, ibarat kita menjual nyawa kita sendiri. Beras tidak bisa dipisahkan dari kehidupan warga Ciptagelar. Beras dan manusia saling menghidupi. Manusia tidak bisa hidup tanpa beras, dan beras tidak dapat hidup tanpa manusia. Konsep seperti itulah yang terus dipercaya warga secara turun-temurun selama lebih dari 6 abad.

Pemandangan sawah di Ciptagelar.

Warga Ciptagelar hanya menanam beras sekali dalam setahun. Meski begitu, hasil produksi berasnya justru sangat produktif. Saat ini Ciptagelar memiliki cadangan beras yang mampu digunakan selama lebih dari tiga tahun. Hal ini dikarenakan sistem pertanian mereka yang sudah mereka jalankan turun-temurun. Penanaman beras yang hanya sekali dalam setahun membuat tanah mereka menjadi subur, sistem ini memberikan kesempatan tanah untuk rehat dan memperbaiki sendiri nutrisi alaminya. Jadi padi yang ditanam di tanah Ciptagelar mampu menghasilkan bulir padi yang lebih banyak dibandingkan dengan padi dari daerah lain.

Pulang dari Ciptagelar…

Aku menghabiskan waktu di Ciptagelar selama 4 hari 4 malam. Selama tinggal di Ciptagelar aku mendapatkan banyak ilmu tentang kehidupan, yang tidak aku dapatkan dari sekolah. Aku juga banyak merasakan kesan yang istimewa yang belum pernah kudapatkan dari tempat lain yang pernah kusinggahi. Selain hal menarik tentang konsep padi, sebenernya masih banyak lagi cerita tentang kearifan lokal Ciptagelar yang ingin kuceritakan. Tapi kalo aku buat dalam satu artikel ini takutnya jadi kepanjangan, lagipula judul artikel ini aja Rute Menuju, jadi kubuat judul lainnya. Kalian bisa ikuti cerita selanjutnya dengan klik link ini, Cerita tentang Kasepuhan Adat Ciptagelar.

Nah, untuk pulangnya dari Ciptagelar, kita akan diarahkan oleh warga untuk numpang mobil pickup yang akan belanja ke Kota Pelabuhan Ratu. Tarifnya per orang 50ribu aja, lebih murah daripada harus naik ojek lagi. Tapi yaitu, kita harus duduk di belakang kalo ada warga lokal yang ikut ke kota. Kalian harus siap merasakan perut kalian dikocok lagi. Tapi seru sih, namanya aja backpackeran, kita harus siap bepergian dengan moda transportasi apapun, yang penting bisa menghemat biaya perjalanan. Betul ga cuy?

Baca juga : Tips wisata ke Sabang, Aceh Ala Backpacker

Rincian Biaya Perjalanan Menuju Ke Ciptagelar (PP)

  • Naik Ojol dari Rumah saudara di Bekasi : Rp. 2000,- (pakai kode promo)
  • Naik Commuter Line dari St.Kranji ke St.Bogor : Rp. 7.000,-
  • Naik Ojol dari St.Bogor ke Terminal Baranangsiang : Rp. 2.000,- (pake kode promo)
  • Bis dari T.Baranangsiang, Bogor ke Terminal Pelabuhan Ratu : Rp. 50.000,-
  • Ojek dari T. Pelabuhan Ratu ke Homestay Villa Family : Rp. 15.000,-
  • Nginep Homestay : Free (Thanks to Ryan)
  • Ojek Dari Pantai Citepus ke Ciptagelar : Rp. 175.000,-
  • Numpang Pickup sayur dari Ciptagelar ke T. Pelabuhan Ratu : Rp. 50.000,-
  • Bis dari Pelabuhan Ratu ke T.Baranangsiang Bogor : Rp. 50.000,-
  • Ojol dr T.Baranangsiang ke St.Bogor : Rp.2000,- (pake kode promo)
  • St. Bogor ke St. Kranji, Bekasi : Rp 7.000,- (biaya jaminan kartu, Rp 10.000,- tidak diinclude)
  • Ojol St. Kranji ke rumah : Rp. 8.000,-
  • TOTAL BIAYA : 368.000
  • ( ga kuinclude biaya makan selama disana, karena emang gratis tis tis, cuma aku ninggalin uang sukarela aja buat mak-mak dan mbak-mbak yang kerja di dapur )

So, setelah baca ini, semoga kalian bisa dapat tambahan informasi, bagaimana caranya menuju ke Kasepuhan Ciptagelar, kalian ga akan kecewa deh kalo dah sampai sana. Banyak wacana keilmuan yang bisa kalian serap selama berada di Ciptagelar.

See you guys…

Baca juga : Cerita naik bus dari Jakarta ke Aceh

Baca juga : Tips Wisata ke Sabang, Aceh Ala Backpacker

Baca juga : Jalan – jalan di Qatar, Negara Terkaya Di Dunia



8 COMMENTS

    • Untuk yang singgah homestay di Pelabuhan Ratu harusnya bayar mas, tapi karena yang punya teman saya, jadinya digratiskan sama dia.

      Kalo di Ciptagelar ga bayar sama sekali mas, bisa tinggal di bangunan utama atau bisa juga di rumah warga. Tapi ya sepatutnya kita memberikan nominal yang sewajarnya sebagai ucapan terimakasih.

      Dan kalo makan, ga boleh bayar ya. Di bangunan utama selalu disediakan makanan kok.

  1. Pagi om
    Info dong kalo mau ke ciptagelar harus konfirmasi ke siapa ya ?
    Siapa tau om masih ada kontak org sana untuk di konfirmasi.

    Terimakasih

    • Langsung aja menuju ke Ciptagelar mas. Nanti sampai sana akan ada yang nyambut, dan akan diarahkan ke Abah Ugi pemimpin Kasepuhan Adat Ciptagelar untuk minta ijin tinggal serta menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kita.

      • Sore Pak, mau nanya. Kalo saya dari terminal kampung rambutan, turun dimana ya Pak? Terima kasih sebelum nya Pak 😊

        • Langsung aja ke Terminal Baranangsiang Bogor kak. Dari Terminal Bogor, naik Bus yang ke arah Pelabuhan Ratu. Dsri Pelabuhan Ratu ganti naik ojek, ini opsi terhemat menurutku.
          Semoga bisa membantu. 😊

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here