<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>open trip wae rebo Archives - Ala Backpacker</title>
	<atom:link href="https://alabackpacker.com/tag/open-trip-wae-rebo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://alabackpacker.com/tag/open-trip-wae-rebo/</link>
	<description>My Backpacker Journey</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jan 2026 12:52:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2021/12/cropped-BCB6DDBD-E6D2-4B56-ABE7-4361983FE96D-32x32.jpeg</url>
	<title>open trip wae rebo Archives - Ala Backpacker</title>
	<link>https://alabackpacker.com/tag/open-trip-wae-rebo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Trekking ke Waerebo ala Backpacker (lama, biaya dan rute)</title>
		<link>https://alabackpacker.com/trekking-ke-waerebo-ala-backpacker-lama-biaya-dan-rute/</link>
					<comments>https://alabackpacker.com/trekking-ke-waerebo-ala-backpacker-lama-biaya-dan-rute/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tinton Arya Sasmita]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2023 13:16:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Travel Guide]]></category>
		<category><![CDATA[Travel Story]]></category>
		<category><![CDATA[backpacker ke wae rebo]]></category>
		<category><![CDATA[biaya ke waerebp]]></category>
		<category><![CDATA[desa wae rebo]]></category>
		<category><![CDATA[open trip wae rebo]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi ke wae rebop]]></category>
		<category><![CDATA[trekking ke Wae rebo]]></category>
		<category><![CDATA[trip ke wae rebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://alabackpacker.com/?p=658</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hello guys, selamat datang kembali ke blog gw, alabackpacker.com. Blog rujukan bagi kalian yang ingin</p>
<p>The post <a href="https://alabackpacker.com/trekking-ke-waerebo-ala-backpacker-lama-biaya-dan-rute/">&lt;strong&gt;Trekking ke Waerebo ala Backpacker (lama, biaya dan rute)&lt;/strong&gt;</a> appeared first on <a href="https://alabackpacker.com">Ala Backpacker</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hello guys, selamat datang kembali ke blog gw, <a href="http://alabackpackeer.com">alabackpacker.com</a>. Blog rujukan bagi kalian yang ingin mengeskplore keindahan Indonesia via jalur hemat, hehehe. Nah kalo kalian mampir ke artikel ini setelah baca artikel sebelumnya,<a href="https://alabackpacker.com/rute-trip-ke-wae-rebo-dari-labuan-bajo-ala-backpacker/?amp=1" target="_blank" rel="noreferrer noopener"> Rute Trip ke Wae Rebo ala Backpacker</a>, berarti kalian sudah tepat buat baca artikel ini, tapi kalo belum, ada baiknya kalian baca dulu artikel sebelumnya, karena artikel ini tuh emang part kedua dari rangkaian cerita backpacking ke Wae Rebo.</p>



<p>Di artikel sebelumnya aku bercerita tentang perjalananku dari Labuan Bajo hingga sampai ke Basecamp Waerebo di Desa Denge. Desa terakhir yang bisa dijangkau oleh kendaraan bermotor. Jadi untuk bisa sampai ke Wae Rebo, memang ga bisa pakai kendaraan bermotor ya guys, kalian harus jalan kaki atau trekking sejauh kira-kira 7 KM dari kaki bukit yang memakan waktu sekitar 2 sampai dengan 4 jam tergantung kecepatan jalan kita. Kalo aku sendiri, aku menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Tapi waktu itu kakiku sedang ada cidera di lutut, jadi masih bisa jalan, tapi ga bisa jalan cepat. Kalo orang lain sih ga sampai 3 jam.</p>



<p>Untuk versi youtubenya, silahkan kunjungi channelku melalu<a href="https://youtu.be/hHWi77p7p04?si=XA2ih6ccw6NpkS76"> link ini</a> ya guys : </p>



<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/backpacker-keliling-asean-3-negara-via-jalur-darat/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Backpacker Keliling Asean 3 Negara, Jalur Darat!!</a></p>



<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/travelling-ke-singapore-dan-malaysia-ala-backpacker/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Travelling ke Singapura dan Malaysia ala Backpacker</a></p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bermalam dulu di Basecamp Waerebo milik Pak Blasius.</strong></h2>



<p>Okay, sebelum lanjut cerita trekking, malam sebelum hari-H aku menginap di<a href="https://goo.gl/maps/po2mj2bJv35MkCwh8" target="_blank" rel="noreferrer noopener"> homestay milik Pak Blasius</a>. Memang untuk trekking ke Waerebo, kalian ga harus stay dulu di basecamp, melainkan bisa langsung start trekking saat sudah tiba di Desa Denge. Tapi, kalian harus mulai perjalanan dari Labuan Bajo pagi-pagi, paling tidak jam 6 pagi sudah start agar sampai di Desa Denge sebelum jam 12. Kenapa aku saranin sudah harus sampai di Desa Denge sebelum jam 12 siang, itu biar kalian punya waktu untuk trekking dan sampai di Wae Rebo sebelum Magrib. Soalnya kalo trekking waktu gelap bisa bahaya cuy, kalo belum pernah ke Wae Rebo sama sekali. Treknya itu hanya jalan setapak, dan pinggirnya langsung jurang. Kalo jalan waktu gelap, salah dikit aja bisa masuk ke alam lain kita<a href="http://google.co.id" target="_blank" rel="noreferrer noopener">.</a></p>



<p>Ya, kalo kalian mau jalan santai menikmati perjalanan, lebih baik spare waktu satu malam di Desa Denge. Kalian ga harus stay di Basecamp milik Pak Blasius sih, di sepanjang perjalanan aku liat ada homestay-homestay lain yang bisa kalian singgahi, atau bisa juga numpang di rumah milik warga.</p>



<p>Nah kalo alasanku sendiri kenapa milih buat stay di Homestay milik Pak Blasius sih agar bisa mendengar cerita tentang Wae Rebo dari beliau. Jadi beliau ini adalah salah satu pioner Wisata Desa Wae Rebo. Beliau adalah salah seorang yang berjasa membuat<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Wae_Rebo" target="_blank" rel="noreferrer noopener"> Desa Wae Rebo</a> dari sebuah desa di antah berantah yang tidak dikenal menjadi sebuah lokasi wisata unggulan hingga dinobatkan menjadi bagian dari Unesco World Cultural Heritage.</p>



<p>Nah, kalo kalian pengin tahu proses gimana usaha Pak Blasius menjadikan Wae Rebo sebagai destinasi wisata kelas dunia, kalian wajib mampir ke Basecamp Wae Rebo milik beliau, soalnya kalo aku ceritain di artikel ini bakal kepanjangan cuy, hehehe.</p>



<p>Biaya yang harus kalian keluarkan untuk stay di homestay Pak Blasius ini adalah 200.000 per orang, jadi meski kalian datang ber 2 dan tinggal 1 ruangan, masing-masing tetap harus bayar 200.000 rupiah. Itu sudah include makan ya guys.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="767" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-1024x767.jpg" alt="Basecamp Wae Rebo rumah Pak Blasius" class="wp-image-624" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-1024x767.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-300x225.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-768x575.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-696x521.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-1068x800.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510.jpg 1170w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Basecamp Wae Rebo di Desa Denge bersama Pak Blasius</figcaption></figure>
</div>


<p><strong>Memulai trekking ke Desa Wae Rebo pagi hari jam 9 pagi.</strong></p>



<p>Oh ya, bagi kalian yang belum baca artikel sebelumnya, dalam perjalanan trekking ke Wae Rebo ini aku ditemani oleh Bang Donald, kawan yang aku temui di hostel di Labuan Bajo. Bang Donal ini meski baru kenal sudah kayak kawan lama, bersyukur ak bisa bareng trekking sama dia.</p>



<p>Pagi-pagi setelah mandi, kami sarapan sambil ngobrol dengan Pak Blasius di dapur belakang. Cuacanya waktu itu sangat cerah dan udara di sana sangat fresh karena tidak banyak polusi udara. Di momen itulah aku mendengar banyak cerita dari beliau ditemani dengan panasnya kopi asli Flores. Menurutku cukup worth it lah buat stay semalam di Rumah Pak Blasius ini.</p>



<p>Jam 9 pagi kami berpamitan dengan Pak Blasius dan memulai perjalanan kami. Nah sebenarnya, dari basecamp ini kita harus naik motor lagi hingga sampai di tempat parkir sebelum mulai trekking. Saran aku, kalian pakai jasa ojek saja buat sampai di tempat parkir, dan motor kalian ditinggal di basecamp. Kalo pakai jasa ojek, sekali jalan 50 ribu per orang. Jadi pulang pergi 100.000 sampai basecamp lagi. Jarak lokasi parkir dari basecamp sekitar 15 menitan lamanya. Kenapa aku saranin buat tinggal motor di basecamp nanti bakal aku ceritain alasannya di bagian akhir artikel ini.</p>



<p>Sekitar jam 9.30 kami sampai di tempat parkir di kaki bukit Wae Rebo. Kami langsung memarkirkan motor walaupun ada sedikit rasa was-was. Karena di parkiran motor ini ga ada pemukiman penduduk guys, pemukiman terakhir yang bisa kita temui ya Di Desa Denge tempat Basecamp Pak Blasius tadi, aku dan Bang Donal takut ada kenapa-kenapa dengan motor sewaan kami. Tapi dengan mengucap Bismillah kami bertekad untuk memulai trekking dan meninggalkan motor di parkiran. Eiitts tak lupa kita membayar biaya parkir senilai 10.000 rupiah.</p>



<p>Oiya guys, sebelum memulai trekking, ada baiknya kalian menyewa tongkat kayu sebagai alat bantu trekking. Trust me, itu bakal sangat membantu kalian, ibaratnya tongkat itu bisa jadi kaki ketiga, dan bisa jadi alat rem saat turunan. Harga sewanya 10.000 untuk yang kayu, dan 20.000 untuk yang rotan. Di parkiran ada bapak-bapak yang sudah standby buat menyewakan tongkat kayu tersebut dan bisa kita kembalikan lagi setelah turun dari Desa Waerebo.<br></p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Cycling in Japan from Osaka to Kyoto on a Polygon Tambora A4 | Bikepacking in Japan Part 1" width="770" height="433" src="https://www.youtube.com/embed/3Z15cjBp7Jw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div><figcaption class="wp-element-caption">Cek videoku selama cycling di Jepang guys.</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pengalaman selama Trekking ke Wae Rebo</strong></h2>



<p>Setelah menyewa tongkat, kami memulai perjalanan trekking ke atas bukit menuju Desa Wae Rebo. Rute trekking ke Wae Rebo ini gampang kok guys, hanya ada 1 jalan menuju ke atas dan tidak bercabang sama sekali, jadi kalian ga perlu khawatir bakal tersesat. Di sepanjang perjalanan menuju ke Basecamp milik Pak Blasius ada banyak warga yang menawarkan jasa guide untuk menemani kita trekking, tapi waktu sudah sampai di rumah Pak Blasius, beliau bilang tidak pakai guide juga gapapa, karena rutenya gampang, hanya 1 trek saja. Jadi ya udah, akhirnya kami putuskan untuk trekking ke Wae Rebo tanpa guide.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-medium"><img decoding="async" width="300" height="163" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4610-300x163.jpg" alt="Trekking ke Wae Rebo" class="wp-image-676" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4610-300x163.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4610-1024x558.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4610-768x418.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4610-696x379.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4610-1068x581.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4610.jpg 1170w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sewalah tongkat! Percayalah pasti berguna.</figcaption></figure>
</div>


<p>Sekitar 1 KM dari parkiran atau sekitar 30 menit awal trekking, jalanan sudah dibuat bagus merata dengan landasan batu kali. Nah setelah itu jalanan berubah menjadi jalan tanah setapak. Jika suatu saat kalian mau trekking naik ke atas, pastikan kalian memakai sepatu khusus trekking yang mencengkram tanah, karena rute trekkingnya ini licin guys, apalagi jika habis hujan, jadi buat keselamatan kalian juga, pastikan kalian pakai sepatu yang proper ya.</p>



<p>Maka dari itu, usahakan untuk memulai trekking sebelum jam 12 siang agar bisa sampai di Wae Rebo sebelum Magrib. Soalnya dalam kondisi gelap, rute trekkingnya akan menjadi sedikit berbahaya bagi kalian yang belum pernah ke Wae Rebo. Disamping jalannya licin, pinggir rute trekking langsung jurang. Jadi kalian wajib extra hati-hati ya guys</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pos-pos peristirahatan di rute trekking ke Wae Rebo</strong></h2>



<p>Pada awalnya, rute trekking ke Wae Rebo ini terbagi ke dalam 3 pos. Pos pertama yaitu di parkiran, kedua di tengah-tengah perjalanan, dan yang ketiga ya pas di Wae Rebonya itu sendiri. Namun, saat aku kesana, sudah ada beberapa penambahan pos, jadi sepanjang perjalanan trekking nanti, kalian bakal nemuin gazebo-gazebo buat beristirahat sementara, kalo jumlah totalnya aku lupa, intinya cukuplah buat istirahat sementara biar perjalanan kita ga terlalu ngoyo.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-medium"><img loading="lazy" decoding="async" width="300" height="165" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4612-300x165.jpg" alt="Pos peristirahatan di rute trekking ke Wae Rebo" class="wp-image-677" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4612-300x165.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4612-1024x562.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4612-768x421.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4612-696x382.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4612-1068x586.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4612.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption class="wp-element-caption">Wujud pos-pos peristirahatan. Akan ditemui beberapa pos peristirahatan di sepamnjang rute trekking</figcaption></figure>
</div>


<p>Pastikan jika kalian trekking, kalian membawa air minum dan snack yang cukup ya guys, karena dipastikan kalian ga bakal nemuin pedagang di sepanjang rute trekking ke Wae Rebo. Dan di sepanjang perjalanan sangat penting bagi kita untuk selalu terhidrasi.&nbsp;</p>



<p>Nah, sebelum kalian sampai di Desa Wae Rebo, kalian akan menemukan sebuah Pos yang ada kentongan di dalamnya, dan dari cerita-cerita masyarakat, kita harus memukul kentongan tersebut sebanyak 3 kali, sebagai tanda bagi warga Wae Rebo bahwa akan ada tamu yang akan berkunjung ke Desa. Jadi saat kita menyelesaikan trekking yang kira-kira masih 20 menit lagi, warga bisa menyiapkan air panas yang akan digunakan untuk membuat minum untuk menyambut kedatangan kita.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-medium"><img loading="lazy" decoding="async" width="300" height="225" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4613-300x225.jpg" alt="Pos untuk membunyikan kentongan sebelum mendekati Wae Rebo" class="wp-image-678" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4613-300x225.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4613-1024x767.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4613-768x575.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4613-696x521.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4613-1068x800.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4613.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pos buat membunyikan kentongan</figcaption></figure>
</div>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sampai di Desa Wae Rebo setelah trekking lebih dari 3 jam</strong></h2>



<p>Setelah menjalani trekking selama kurang lebih 3,5 jam akhirnya kami sampai di Desa Wae Rebo. Pemandangan Desa Waerebo memang sungguh sangat memukau. Rasa capek kami tiba-tiba langsung hilang tergantikan dengan rasa takjub.</p>



<p>Saat itu kami di sambut oleh salah seorang pemuda lokal yang memang bertugas sebagai penerima tamu dan pemandu selama di Di Desa Wae Rebo. Sayang banget guys, aku lupa namanya, abang ini juga yang bakal nerangin ke kita apa yang bisa dilakukan dan yang tidak bisa dilakukan selama di Wae Rebo.&nbsp;</p>



<p>Saat tiba di Wae Rebo, kami langsung diajak si Abang untuk menghadap kepala suku untuk mengikuti ritual penyambutan tamu. Dalam acara ritual tersebut, kita disarankan untuk memberikan seserahan kepada kepala suku. Seserahannya ga berupa benda kok guys, seserahan bisa nominal uang senilai 50.000 dan itu untuk per group bukan per orang.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="767" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4614-1024x767.jpg" alt="Ritual penyambutan tamu di Wae Rebo" class="wp-image-679" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4614-1024x767.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4614-300x225.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4614-768x575.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4614-696x521.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4614-1068x800.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4614.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ritual penyambutan tamu di Wae Rebo oleh Bapak Kepala Suku</figcaption></figure>
</div>


<p>Setelah mengikuti ritual penyambutan tamu, kita langsung diarahkan buat menuju ruang tamu untuk beristirahat. Tidak lupa juga ada ibu-ibu yang sudah menyiapkan makanan untuk kita makan siang itu. Sambil menunggu makanan disajikan Abang guide juga memberikan informasi tentang biaya yang harus kita keluarkan untuk menginap di Waerebo. Saat itu kami harus membayar uang senilai 325.000 per orang per hari. Itu sudah termasuk biaya untuk makan selama tinggal disana. Nominal itu memang lumrah menurutku, karena uang yang terkumpul dari para tamu dikumpulkan untuk biaya konservasi dan maintainance bangunan-bangunan di Waerebo. Di samping itu juga untuk membeli bahan baku makanan dari desa di bawahnya. Bayangkan saja, untuk membawa beras dan bahan makanan lainnya, mereka harus naik turun bukit selama 2 jam lamanya.&nbsp;</p>



<p>Waktu itu saat ak di Wae Rebo, mereka sedang ada project mengganti matras-matras yang akan digunakan oleh tamu untuk tidur. Dan waktu itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, mereka naik turun bukit sambil membawa matras satu persatu. Bahkan ada kejadian lucu saat aku trekking, ada rombongan bapak-bapak yang menyalip kami jalan sambil membawa matras dari bawah, dan saat masih di tengah jalan ak melihat mereka kembali turun buat mengambil matras yang lain dan kemudian mereka menyalip kami jalan lagi. Jadi buat warga lokal, mungkin waktu yang diperlukan buat naik turun bukit hanya 1 jam saja, karena waktu itu aku disalip 2 kali oleh mereka.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="767" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4618-1024x767.jpg" alt="" class="wp-image-689" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4618-1024x767.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4618-300x225.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4618-768x575.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4618-696x521.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4618-1068x800.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4618.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Masakan yang dimasak pakai kayu terasa lebih nikmat guys.</figcaption></figure>
</div>


<p>So, jangan merasa nominal yang kita keluarkan itu banyak ya guys. Semua biaya dan tenaga yang kita keluarkan itu sebanding dengan apa yang kita dapatkan kok. Buatku perjalanan trekking ke Waerebo yang dimulai dari Labuan Bajo ke Desa Denge kemudian dilanjutkan dengan trekking jalan kaki naik bukit ke Desa Wae Rebo itu worth it buaaanget. Plus kita jadi bisa merasakan rasanya detoksifikasi dari HP terutama social media. Karena selama di Wae Rebo dimulai saat trekking sampai kembali ke Desa Denge, kita ga mendapatkan signal HP sama sekali. Suatu pengalaman yang sangat langka bagiku untuk tidak menscroll social media selama lebih dari 24 jam. Jadi saat itu aku merasa jiwa dan pikiranku serasa terbaharukan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bertemu dengan kawan baru di Wae Rebo</strong></h2>



<p>Setelah istirahat tidur siang aku, aku dengar ada suara orang yang datang. Yups mereka adalah pengunjung Wae Rebo asal Jakarta yang bernama Bang Irfan yang sekarang lebih kukenal sebagai Bang Gondrong karena dia punya ciri khas rambut gondrong mirip pesilat Yayan Ruhian, dan yang kedua bernama Satrio. Mereka berdua memang sedang ada proyek di Bandara Labuan Bajo. Jadi, karena memang sedang ada waktu luang, mereka menyempatkan diri buat datang ke Desa Wae Rebo. Saat itu ada total 4 orang yang berkunjung ke Desa Wae Rebo termasuk aku dan Bang Donald.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4628-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-680" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4628-1024x576.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4628-300x169.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4628-768x432.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4628-696x391.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4628-1068x601.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4628.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Dari kiri ke kanan. Bang Satrio, Bang Gondrong, Bang Donald, dan gw sendiri</figcaption></figure>
</div>


<p>Sore hari kami habiskan waktu dengan bercengkrama dengan warga lokal dan tidak lupa mengambil foto sebanyak-banyaknya di Wae Rebo. Satu hal yang wajib kalian coba di sini adalah Kopi Wae Rebo. Rasanya mantap cuy, bahkan aku sampai beli yang masih berbentuk biji yang belum diroasting sebanyak 1 kilo untuk aku bawa balik ke Jawa.&nbsp;</p>



<p>Cuaca di Wae Rebo itu sejuk cenderung ke dingin kalo malam hari, tp tenang aja guys, di ruang tamu&nbsp; disediakan matras yang empuk dan selimut yang tebal kok, jadi kalian ga perlu khawatir bakal kedinginan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4615-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-681" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4615-1024x576.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4615-300x169.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4615-768x432.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4615-696x391.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4615-1068x601.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4615.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Kami berempat sudah janjian buat bangun sebelum subuh demi menyaksikan keindahan sunrise di Wae Rebo. Yang paling semangat waktu itu adalah si Satrio, dialah yang terbangun duluan. Yups, emang ga percuma kita berempat bangun pagi-pagi, suasana sunrise di sana sungguh sangat memukau guys. Dan udaranya bener-bener seger, cocok banget buat kalian yang lagi stress dan pengin healing, hehehe</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4617-1024x576.jpg" alt="Sunrise di Wae Rebo" class="wp-image-682" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4617-1024x576.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4617-300x169.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4617-768x432.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4617-696x391.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4617-1068x601.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4617.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Menunggu datangnya sunrise di Wae Rebo</figcaption></figure>
</div>

<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4629-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-683" style="width:1024px;height:576px" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4629-1024x576.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4629-300x169.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4629-768x432.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4629-696x391.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4629-1068x601.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4629.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Suasana pagi di Wae Rebo</figcaption></figure>
</div>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Trekking turun dari Wae Rebo</strong></h2>



<p>Setelah puas menikmati suasana di Wae Rebo sehari semalam, akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Labuan Bajo. Sekitar jam 9.00 kami berpamitan kepada warga dan terutama kepada Bapak Kepala Suku. Perjalanan trekking turun bukit ini tidak secapek saat kita naik guys. Perjalanannya lebih cepat, tapi ada baiknya kalian emang sewa tongkat sebelum trekking ke atas, karena saat turun bukit tongkat ini jauh lebih berguna buat bantu ngerem, terutama buat kalian yang sepatunya tidak proper.</p>



<p>Hanya sekitar 2 jam an kita sudah sampai di parkiran. Bang Donald dan Satrio turun lebih cepat, nah aku dan Bang Gondrong baru menyusul karena kami berdua sama-sama mengalami cidera di lutut. Ternyata dekat parkiran ada sungai guys. Kami berempat menyempatkan diri untuk membersihkan badan di sana, airnya seger dan jernih banget khas air pegunungan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Drama dimulai di parkiran Wae Rebo</strong></h2>



<p>Setelah membersihkan badan di sungai, Bang Gondrong dan Satrio pergi dulu dan mereka kasih info mau tunggu di rumah warga sambil nungguin kita, karena mereka sudah di jemput jasa ojek buat turun ke Desa Denge, jadi motor mereka ditinggal di rumah warga dan mereka naik ke atas diantar pakai jasa ojek. Nah, drama dimulai saat kami mau menghidupkan motor, ternyata motor&nbsp; Nmax sewaan kami tidak bisa distarter. Ga tahu apa yang terjadi karena kami berdua tidak tahu menahu soal mesin motor.&nbsp;</p>



<p>Emang benar, kata orang, kalo kami mau ke Wae Rebo mending motor dititipkan di rumah warga di Desa Denge, dan mending naik ojek buat ke parkirannya. Ya kita mecoba berpikir positif mungkin memang ada kendala di motornya tanpa ada yang menjahili. Untuk jalan dari parkiran Wae Rebo sampai Desa Denge itu turun terus, jadi meski motor tidak hidup bisa kami tumpangi saja.&nbsp;</p>



<p>Sampai di Desa Denge, kami mencoba minta bantuan ke Pak Blasius, tapi beliau sedang tidak ada di rumah. Jadinya kami mencoba turun lagi buat nyari bengkel terdekat. Bengkel pertama menolak karena memang cuma bengkel tambal ban. Ga jauh dari bengkel pertama, kami bertemu dengan Bang Gondrong dan Satrio. Akhirnya kami lanjut jalan lagi menuruni Desa Denge. Selama perjalanan turun, kami menemui bengkel kedua, tapi mereka menolak juga untuk memperbaiki tanpa memberikan alasan yang jelas, tapi mereka kasih info bahwa di bawah lagi ada bengkel khusus mesin. Akhirnya kami turun lagi, dan ketemu dengan bengkel yang dimaksud, tapi sayang, bengkelnya tutup digembok. Ada warga lokal yang liat kami yang sedang kesusahan, dan baiknya warga lokal ini membantu kami buat nyariin simontir di rumahnya, aku ikut dengan warga lokal ini, tapi sayang, si montir juga sedang tidak ada di rumahnya. Akhirnya kami melanjutan perjalanan dan sampai ke Pantai Dintor. Disana ada bengkel juga, motor sudah coba dibongkar, tp si montir tidak bisa memperbaiki karena tidak tahu persis dimana persoalannya.&nbsp;Total sudah <strong>4 bengkel</strong> yang kami lewati, tapi tak ada satupun yang bisa menolong kami.</p>



<p>Akhirnya, dari warga lokal yang tadi bantuin kita nyari montir, kita dapat info bahwa si montir yang handal memperbaiki segala macam kerusakan motor sedang main di bengkel lain. Akhirnya, banyak warga di Dintor yang juga ikut membantu kami buat dorong motor hingga sampai ke bengkel yang dimaksud. Jadi jalanan dari Denge ke Dintor itu turun terus, tanpa didorong pun motor tetap bisa jalan, nah sampai di Dintor jalanannya datar, karena sudah masuk daerah pesisir. Untung saja kami bertemu dengan warga lokal yang baik-baik, mereka telah bersusah payah buat bantu kami, dari cari montir sampai ikut dorong motor ke bengkel.</p>



<p>Setelah sampai bengkel, oleh si montir yang terkenal serba bisa di daerah sana motor kami di cek. Dan dia bisa langsung tahu kalo masalahnya di kelistrikan. Langsung saja dia beraksi membongkar tutup body yang ada di stang motor dan mengecek jika ada kabel yang putus. Dan yups si montir ini memang benar-benar ahli, diagnosa dia benar. Jadi guys, ada kabel yang putus, tapi kami tidak tahu kabel putus ini sengaja diputus atau dimakan tikus selama di parkiran Wae Rebo. Yah tanpa babibu dia langsung menyambung kabel yang putus itu.</p>



<p>Akhirnya motor bisa diperbaiki, dan kami bisa melanjutkan perjalanan pulang ke Labuan Bajo. Tidak lupa kami memberikan ucapan terimakasih kepada warga lokal yang dengan sukarela mau menolong kami dengan membelikan rokok kepada mereka. Karena waktu itu aku sudah kehabisan uang cash, jadinya aku pinjam Bang Donald buat bayarin dulu semua biaya perbaikan.</p>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="767" data-id="686" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4621-1024x767.jpg" alt="Perbaikan motor di Wae Rebo" class="wp-image-686" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4621-1024x767.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4621-300x225.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4621-768x575.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4621-696x521.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4621-1068x800.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4621.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Tampak warga lokal yang membantu kami menemukan Bang Montir dan ikut mendorong motor</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="767" data-id="687" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4619-1-1024x767.jpg" alt="Montir di Wae Rebo" class="wp-image-687" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4619-1-1024x767.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4619-1-300x225.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4619-1-768x575.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4619-1-696x521.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4619-1-1068x800.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4619-1.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Terimakasih buat Bang Montir</figcaption></figure>
</figure>



<p>Yah, beruntung banget guys, meski kami waktu itu kami sedang ditimpa musibah, tapi kami merasa terharu, ternyata selama kita masih hidup di Indonesia, masih banyak orang baik yang mau membantu kita tanpa pamrih. Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bang Gondrong dan Satrio yang juga sudah mencoba membantu kami dengan segala daya dan upaya. Tanpa mereka, mungkin aku dan Bang Donald sudah down dan ga tahu mau gimana.</p>



<p>Dalam perjalanan pulang ke Wae Rebo, kami melewati jalur pintas Nangalele, dipandu oleh Bang Gondrong Dan Satrio. Mereka juga rela mengawal kami, jika kami tertinggal jauh, mereka bakal menunggu dulu karena aku ga bisa ngebut kalo pake motor. Intinya, jasa mereka berdua ga bakal pernah aku lupain seumur hidup, termasuk juga Bang Donald, partner perjalananku selama di Wae Rebo. Dari 1 hari saja pengalaman di Wae Rebo, mereka bertiga sudah seperti kawan dekat bagiku bahkan sudah seperti keluarga meski belum kenal lama.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sampai juga di Labuan Bajo setelah menjalani perjalanan panjang dari berangkat hingga trekking naik turun bukit Wae Rebo</strong></h2>



<p>Sekitar jam 9.00 malam kami sampai di Labuan Bajo. Kami langsung berpamitan karena lokasi hotel kami berbeda arah. Tapi kami janjian buat bertemu keesokan harinya. Saat kami bertemu keesokan harinya, kami berempat mencoba membuat Kopi ala-ala V60 dengan bahan Kopi Wae Rebo yang kami beli sebelumnya. Yah meski dengan alat sederhana, kami bisa menikmati Kopi Wae Rebo ini. Yang penting kebersamaanya guys, hehe.</p>



<p>Oke guys, itulah cerita lengkap ngetrip ku ke Wae Rebo. Sebetulnya, artikel ini adalah salah satu bagian dari rangkaian cerita backpackingku dari Jogja menuju ke Pulau Flores melalui jalur darat dan laut. Bagi kalian yang kebetulan juga pengin menjalani trip sepertiku, kalian boleh baca keseluruhan ceritaku di link-link di bawah ini. Dan buat kalian yang emang cuma punya agenda di Labuan Bajo saja, mungkin artikel <a rel="noreferrer noopener" href="https://alabackpacker.com/one-day-trip-komodo-explore-komodo-ala-backpacker/" target="_blank">One Day Trip ke Komodo</a> ini bisa menjadi referensi buat kalian untuk mengunjungi Pulau Komodo. Jika ada pertanyaan yang ingin ditanyakan silaturahmi ke akun IG ku di <a rel="noreferrer noopener" href="http://instagram.com/tint_arya" target="_blank">tint_arya</a>, jika ada waktu luang pasti akan kubalas pertanyaan dari kalian.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="724" height="1024" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2022/06/35b47269-4ca0-41a4-934a-53ce83e3fc80-1-724x1024.jpg" alt="One Day Tour Komodo" class="wp-image-516" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2022/06/35b47269-4ca0-41a4-934a-53ce83e3fc80-1-724x1024.jpg 724w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2022/06/35b47269-4ca0-41a4-934a-53ce83e3fc80-1-212x300.jpg 212w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2022/06/35b47269-4ca0-41a4-934a-53ce83e3fc80-1-768x1086.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2022/06/35b47269-4ca0-41a4-934a-53ce83e3fc80-1-696x984.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2022/06/35b47269-4ca0-41a4-934a-53ce83e3fc80-1.jpg 905w" sizes="auto, (max-width: 724px) 100vw, 724px" /><figcaption class="wp-element-caption">Untuk tour komodo bisa contact nomor di atas.</figcaption></figure>
</div>

<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/kapal-surabaya-lombok-kirana-7/" target="_blank" rel="noopener">Naik Kapal dari Surabaya ke Lombok</a></p>
<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/bus-mataram-bima/" target="_blank" rel="noopener">Bus Surya Kencana dari Mataram ke Bima</a></p>
<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/bima-ke-labuan-bajo/" target="_blank" rel="noopener">Cara menuju Labuan Bajo dari Bima</a></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Rincia biaya untuk trekking ke Wae Rebo dari Labuan Bajo</strong></h2>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="873" height="498" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/Image-23-01-23-at-22.00.jpeg" alt="Budget trekking ke Wae Rebo" class="wp-image-672" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/Image-23-01-23-at-22.00.jpeg 873w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/Image-23-01-23-at-22.00-300x171.jpeg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/Image-23-01-23-at-22.00-768x438.jpeg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/Image-23-01-23-at-22.00-696x397.jpeg 696w" sizes="auto, (max-width: 873px) 100vw, 873px" /><figcaption class="wp-element-caption">Budget trekking ke Wae Rebo</figcaption></figure>
</div>


<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Hello guys, saat ini aku Tinton Arya Sasmita si penulis blog ini sedang merintis usaha tour and travel di Jogja. Jika suatu saat kalian ingin berwisata ke Jogja bersama keluarga, silahkan cek website<a rel="noreferrer noopener" href="http://wisatajogja.com/" target="_blank">&nbsp;wisatajogja.com</a>&nbsp;dan cek IG-nya di<a rel="noreferrer noopener" href="http://instagram.com/wisatajogja_com" target="_blank">&nbsp;wisatajogja_com</a>&nbsp;ya. Kami punya rating bagus di&nbsp;<a rel="noreferrer noopener" href="https://www.tripadvisor.com/AttractionProductReview-g294230-d19058536-Borobudur_Temple_Merapi_Lava_Tour_Prambanan_Temple-Yogyakarta_Region_Java.html" target="_blank">Trip Advisor</a>&nbsp;loh.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-medium"><img loading="lazy" decoding="async" width="300" height="300" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-300x300.jpg" alt="wisata jogja" class="wp-image-634" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-300x300.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-1024x1024.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-150x150.jpg 150w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-768x768.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-1536x1536.jpg 1536w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-2048x2048.jpg 2048w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-696x696.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-1068x1068.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-1920x1920.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption class="wp-element-caption">www.wisatajogja.com</figcaption></figure>
</div><p>The post <a href="https://alabackpacker.com/trekking-ke-waerebo-ala-backpacker-lama-biaya-dan-rute/">&lt;strong&gt;Trekking ke Waerebo ala Backpacker (lama, biaya dan rute)&lt;/strong&gt;</a> appeared first on <a href="https://alabackpacker.com">Ala Backpacker</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alabackpacker.com/trekking-ke-waerebo-ala-backpacker-lama-biaya-dan-rute/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
