<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>rute ke wae rebo Archives - Ala Backpacker</title>
	<atom:link href="https://alabackpacker.com/tag/rute-ke-wae-rebo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://alabackpacker.com/tag/rute-ke-wae-rebo/</link>
	<description>My Backpacker Journey</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jan 2026 12:55:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.1</generator>

<image>
	<url>https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2021/12/cropped-BCB6DDBD-E6D2-4B56-ABE7-4361983FE96D-32x32.jpeg</url>
	<title>rute ke wae rebo Archives - Ala Backpacker</title>
	<link>https://alabackpacker.com/tag/rute-ke-wae-rebo/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rute Trip ke Wae Rebo dari Labuan Bajo ala backpacker</title>
		<link>https://alabackpacker.com/rute-trip-ke-wae-rebo-dari-labuan-bajo-ala-backpacker/</link>
					<comments>https://alabackpacker.com/rute-trip-ke-wae-rebo-dari-labuan-bajo-ala-backpacker/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Tinton Arya]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2023 12:54:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Travel Story]]></category>
		<category><![CDATA[backpacker ke wae rebo]]></category>
		<category><![CDATA[ke waerebo naik motor]]></category>
		<category><![CDATA[naik motor ke wae rebo]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan ke waerebo]]></category>
		<category><![CDATA[rute ke wae rebo]]></category>
		<category><![CDATA[rute ke warebo]]></category>
		<category><![CDATA[trekking ke Wae rebo]]></category>
		<category><![CDATA[trekking waerebo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://alabackpacker.com/?p=615</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hello guys, welcome to my blog, alabackpacker.com, blog nya para traveller style hemat, yuhuy!!! Nah</p>
<p>The post <a href="https://alabackpacker.com/rute-trip-ke-wae-rebo-dari-labuan-bajo-ala-backpacker/">Rute Trip ke Wae Rebo dari Labuan Bajo ala backpacker</a> appeared first on <a href="https://alabackpacker.com">Ala Backpacker</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Hello guys, welcome to my blog, <a href="http://alabackpacker.com">alabackpacker.com</a>, blog nya para traveller style hemat, yuhuy!!!</p>



<p>Nah di artikel kali ini tuh aku mau bahas cerita petualanganku ngetrip ke Waerebo. Artikelku kali ini adalah lanjutan dari rangkaian cerita perjalananku dari Jogja hingga Labuan Bajo melalui jalur darat dan laut.&nbsp;</p>



<p>Sebelum menjalani trip ke Waerebo, aku sudah berada di Labuan Bajo 3 hari sebelumnya. Hari pertama di Labuan Bajo aku ngetrip ke Pulau Komodo dengan menggunakan perahu. Kalo kalian ingin baca juga artikelku saat <a href="https://alabackpacker.com/one-day-trip-komodo-explore-komodo-ala-backpacker/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">ngetrip ke Pulau Komodo</a>, silahkan baca di<a href="https://alabackpacker.com/one-day-trip-komodo-explore-komodo-ala-backpacker/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"> link</a> ini ya guys.</p>



<p>Singkat cerita saat sudah selesai ngetrip ke Pulau Komodo aku ketemu sama temen di hostel yang berasal dari Padang namanya bang Donald. Setelah berkenalan dan ngobrol-ngobrol, ternyata dia mau ke Waerebo juga. Jadinya kita janjian buat ngetrip ke Waerebo bareng lusanya. Ini nih enaknya kalo kita nginep di hostel, bisa ketemu sama orang-orang yang kemungkinan punya tujuan yang sama kayak kita. Jadi di perjalanan nanti kita bisa share cost lah, terutama cost buat sewa motor dan beli bensin.</p>



<p>Oh ya, artikel trip ke Waerebo ini terbagi menjadi 2 part ya guys. part pertama berisi tentang rute trip dari Labuan Bajo hingga ke Desa Denge, basecamp terakhir sebelum trekking ke Wae Rebo dan part kedua berisi tentang <a href="https://alabackpacker.com/trekking-ke-waerebo-ala-backpacker-lama-biaya-dan-rute/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">cerita trekking dari basecamp dan pengalaman selama tinggal di Desa Waerebo</a>, tak lupa pula akan aku sisipkan cerita waktu perjalanan pulang ke Labuan Bajo yang tak kalah seru. Untuk versi youtubenya, silahkan kunjungi channelku melalui <a href="https://youtu.be/hHWi77p7p04?si=XA2ih6ccw6NpkS76">link ini</a> ya guys.</p>



<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/backpacker-keliling-asean-3-negara-via-jalur-darat/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Backpacker Keliling Asean, 3 Negara via Jalur Darat</a></p>



<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/naik-bus-dari-jakarta-ke-aceh-jalur-darat/#Pemandangan_di_Bus_dari_Jakarta_ke_Aceh">Naik bus dari Jakarta ke Aceh</a></p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ngabisin waktu di Labuan Bajo</strong></h2>



<p>Sebenernya, aku mau lanjut trip ke Waerebo di hari keduaku di Labuan Bajo, tapi karena di hari itu Bang Donald masih mau ngetrip ke Pulau Komodo dulu, alhasil aku nungguin dia terlebih dahulu biar bisa jalan barengan ke Waerebo. Nah buat ngabisin waktu, aku keliling Labuan Bajo pake angkot. Jadi dari hotel aku nyetop angkot dan nanya ke abang sopir,” Bang, boleh ikut muter-muter ga? pengin ngerti Labuan Bajo nih”. Kata abangnya sih oke-oke aja. Dan waktu itu aku cuma bayar 10 ribu aja. Murah banget kan? cuma 10 ribu bisa ikut muter-muter keliling <a href="https://goo.gl/maps/bdcTaZgfFDuXE2Ut5" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Labuan Bajo.</a></p>



<p>Sebenernya pusat Kota Labuan Bajo itu ga luas-luas amat. Ga sampai 1 jam sudah bisa buat keliling Pusat Kota Labuan Bajo. Tapi pas aku ikut angkot, kebetulan waktu itu pas jam bubaran sekolah. Jadi ada anak-anak SMP-SMA yang naik angkot, dan tujuan mereka agak menjauh dari Kota. Dan ternyata trayek angkot ini flexibel, jadi ga melulu muter kota, tapi juga sampai ke pelosok desa di sekitaran Labuan Bajo. Aku merasa beruntung juga waktu itu, karena bisa ikutan angkot sampai ke desa-desa nya, jadi yang kulihat ga melulu pusat kota di Labuan Bajo.</p>



<p>Dari yang tadinya kukira cuma 1 jam, waktu itu aku jadi ngikut muter sampai 3 jam jadinya, sampai-sampai ketiduran di angkot, hehehe. Setelah muter-muter, aku lanjut ngabisin waktu di cafe dulu. Nah, kalo kalian sudah di Labuan Bajo, jangan lupa nyoba kopi asli Pulau Flores ya. Yang terkenal dari Flores dan sudah mendunia adalah Kopi Bajawa.</p>


<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/one-day-trip-komodo-explore-komodo-ala-backpacker/" target="_blank" rel="noopener">One Day Trip ke Komodo dari Labuan Bajo</a></p>
<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/bima-ke-labuan-bajo/" target="_blank" rel="noopener">Transportasi dari Bima ke Labuan Bajo</a></p>
<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/bus-mataram-bima/" target="_blank" rel="noopener">Trip Naik Bus dari Mataram ke Bima</a> </p>
<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/kapal-surabaya-lombok-kirana-7/" target="_blank" rel="noopener">Naik Kapal dari Surabaya ke Lombok</a></p>
<p> </p>


<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Cycling in Japan from Osaka to Kyoto on a Polygon Tambora A4 | Bikepacking in Japan Part 1" width="770" height="433" src="https://www.youtube.com/embed/3Z15cjBp7Jw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div><figcaption class="wp-element-caption">Cek videoku waktu cycling di Jepang guys.</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Trip Planning Ke Wae Rebo</strong></h2>



<p>Setelah ngabisin waktu buat keliling Kota Labuan aku balik ke Hostel dan disana sudah ada Bang Donald. So, setelah mandi dan makan akhirnya kita buat plan gimana caranya buat menuju Labuan Bajo. Pokok bahasan kita waktu itu adalah rute dan berapa biaya yang harus di keluarkan untuk bisa sampai ke Wae Rebo.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Rute Trip Menuju ke Wae Rebo</strong></h3>



<p>Yups, rute ke Waerebo menjadi topik bahasan kita pertama kali. As you know guys, Desa Waerebo ini terletak di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kalo kalian cari petunjuk di google maps dan langsung mengarahkan tujuan ke Desa Waerebo, kalian ga akan menemukan saran rute di google maps. Yang harus kalian lakukan adalah dengan memasukkan alamat SDK Denge. Yups Desa Denge adalah Desa terakhir yang bisa kalian jangkau naik kendaraan baik mobil maupun motor sebelum nantinya memulai trekking ke Waerebo. Nah SDK itu adalah SD yang lokasinya dekat dengan base camp sebelum kita memulai trekking. FYI, base camp itu milik Pak Blasius ya guys. Jadi semisal suatu saat kalian kehilangan arah, tanya aja ke warga lokal mau ke rumah Pak Blasius. Eitts, saat aku tulis blog ini, kalian bisa langsung masukkan di Gmaps alamat Homestay Pak Blasius, namanya <a href="https://goo.gl/maps/VoctiKXLARBxw8kx6" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Blasius Monta Homestay</a>, dan sudah ada saran rute langsung ke sana.</p>



<p>Ada dua pilihan rute sebenarnya. Rute pertama yang lebih umum dan lebih dikenal adalah kita harus menuju ke arah Ruteng terlebih dahulu. Dan sebelum sampai di Ruteng, sampai di Pertigaan Pela kita harus berbelok ke kanan. Pertigaan Pela ini berada tidak jauh dari daerah bernama <a href="https://goo.gl/maps/9LqQ3frkieP98NTz9" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Redjang</a>. Setelah masuk pertigaan Pela, ikuti saja google maps kalo tidak ada signal kita bisa tanya-tanya ke warga lokal semisal nanti kita tidak tahu arah. Seingatku, dulu ada banyak petunjuk arah di pertigaan ataupun perempatan yang menuju ke Waerebo. Tapi adakalanya aku bingung juga, karena ada beberapa persimpangan yang tidak ada papan petunjuk, dan terpaksa kita harus bertanya ke warga lokal.</p>



<p>Saranku, kalian download google maps off line terlebih dahulu sebelum memutuskan buat ngetrip ke Labuan Bajo, dan pastikan juga kalo kalian membawa powerbank, biar perjalanan kalian nanti lancar jaya. Ingat ya guys kondisi jalan waktu itu jelek sekali, banyak lubang sepanjang jalan, terutama setelah masuk ke pertigaan Pela. Kalo dari Labuan bajo ke arah Ruteng sih jalannya bagus karena masuk ke dalam jalur lintas Flores. Waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan dari Labuan Bajo ke Waerebo ini sekitar 6 jam.</p>



<p>But, i have a good news for you guys. Saat ini sudah ada jalan tembus untuk menuju ke Desa Denge. Jadi suatu saat kalian mau ke Waerebo, kalian ga harus ngetrip kayak aku yang harus ke lewat Pertigaan Pela.</p>



<p>So, ini adalah rute keduanya. Sekarang kalian bisa menuju ke Desa Denge (basecamp Waerebo) melewati Daerah Nangalele. Jaraknya lebih dekat , bisa memangkas waktu sekitar 2 jam dibanding lewat pertigaan Pela yang memerlukan waktu sekitar 6 jam. Dari Labuan Bajo tetep sama sih, kalian harus ke arah Ruteng terlebih dahulu, tapi ga harus sampai Redjang. nanti ada <a href="https://goo.gl/maps/Usf8fGyAiujT7VvM8" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Pertigaan Lembor</a> namanya. Kenapa namanya Pertigaan Lembor karena pertigaan itu berada di daerah Lembor. Dari pertigaan itu kalian ambil arah ke kanan menuju Nangalele. Dari Nangalele, kalian bisa ikuti google maps, but download google maps offline dulu di Labuan Bajo ya, karena dijamin nanti kalian bakal susah dapat signal.&nbsp;</p>



<p>Jalannya bisa dibilang lebih parah dari yang pertama, tapi tetep&nbsp; lebih worth it lewat jalan pintas Nangalele karena hanya perlu 4 jam untuk menempuh perjalanan dari Labuan Bajo sampai ke Desa Denge, base camp terakhir sebelum memulai trekking ke Waerebo.&nbsp;</p>



<p>Terus kalian pasti nanya, kenapa dari awal aku ga ambil jalur Nangalele? Itu dikarenakan aku belum tahu sebelumnya. Jadi aku ambil jalur yang lewat Nangalele saat pulang ke Labuan Bajo karena dikasih tahu oleh teman yang ketemu di Waerebo. Terus akhirnya aku ngikut mereka pas jalur pulang ke Labuan Bajo. Eits tapi jika kalian memutuskan untuk menyewa mobil dari labuan Bajo, aku ga saranin kalian buat lewat Nangalele, karena kalian akan banyak nyeberangin sungai-sungai kecil. Kalian bakal kesulitan kalo naik mobil lewat Nangalele. Agar kalian nanti bisa ngebayangin seperti apa sungai-sungai yang harus dilewatin, di akhir artikel akan aku cantumin fotonya.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1093" height="1428" data-id="631" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4521-edited.jpg" alt="" class="wp-image-631" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4521-edited.jpg 1093w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4521-edited-230x300.jpg 230w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4521-edited-784x1024.jpg 784w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4521-edited-768x1003.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4521-edited-696x909.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4521-edited-1068x1395.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1093px) 100vw, 1093px" /><figcaption class="wp-element-caption">Rute lama yang dulu aku tempuh. Dulu tidak ada saran rute melalui Nangalele, jadi harus memutar dulu ke arah Ruteng baru belok di pertigaan Pela.</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="666" height="1024" data-id="627" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4519-666x1024.jpg" alt="" class="wp-image-627" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4519-666x1024.jpg 666w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4519-195x300.jpg 195w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4519-768x1180.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4519-1000x1536.jpg 1000w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4519-696x1070.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4519-1068x1641.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4519.jpg 1170w" sizes="(max-width: 666px) 100vw, 666px" /><figcaption class="wp-element-caption">Rute baru di google maps. Sudah ada saran rute melalui Nangalele, bisa langsung belok kanan di Pertigaan Lembor</figcaption></figure>
</figure>



<p>Nah, di artikel selanjutnya akan ada cerita-cerita menarik selama perjalanan dari awal keberangkatan sampai balik lagi ke Labuan Bajo. So stay tune di artikel ini sampai akhir ya guys.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Cerita Perjalananan Lengkap dari Labuan Bajo ke Desa Denge (basecamp Waerebo)</strong></h2>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Rute</strong> <strong>Trip Naik Motor ke Basecamp Waerebo di Desa Denge</strong>.</h3>



<p>So, setelah kita buat trip plan di malam hari, paginya kita langsung cuss menuju ke Waerebo. Nah, di artikel ini tuh ak ga bakal share pengalaman baiknya, tapi buruknya juga selama perjalanan nanti.&nbsp;</p>



<p>Awal cerita, dari hotel kami langsung menuju ke tempat penyewaan motor. Ak ga akan kasih rekomendasi persewaan motornya ke kalian, karena kondisi motornya parah banget cuy, yang jelas lokasinya tepat berada di jalan utama setelah pintu keluar Pelabuhan dekat dengan Cafe St*rbuck. Jadi hati-hati saja kalo kalian liat ada persewaan motor yang dekat dengan St*rbuck.</p>



<p>Motor pertama kita ganti karena ada masalah di ban. Terus kita ambil yang kedua. Dan waktu itu kita dikasih helm tanpa kaca. Awal-awal sih kerasa ga masalah ya karena terbawa perasaan excited mau ngetrip ke Waerebo, tapi lambat laun pedih juga mataku gara-gara helm tanpa kaca ini. Alhasil, aku harus beli kacamata di pinggir jalan seharga 50 ribu buat ngilangin kepedihan di mata gara-gara debu jalanan Flores. Jadi, semisal besuk kalian juga mau ke Waerebo naik motor sepertiku, pastikan kalian cek kondisi motor kalian, minta helm yang proper. Perjalanan ini tuh panjang cuy, 6 jam. Itu dah kayak Jogja &#8211; Surabaya kalo di Jawa, emang ga sejauh itu secara jarak, karena yang bikin lama itu kondisi jalan yang jelek. Pakai jaket dan celana panjang yang mumpuni, karena cuaca di Flores itu sangat panas menyengat cuy.</p>



<p>Okay, setelah ganti motor kita cuss menuju ke Desa Denge. Motor yang kedua sih tampak lebih okay dari yang pertama, tapi ceritanya tidak berhenti disini, nanti di akhir cerita gua bakal share pengalaman yang unik tentang motor ini juga, hahaha.&nbsp;Oiya, kalo kalian mau sewa motor usahain untuk sewa motor dengan cc minimal 150 ya, minimal Nmax lah.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Kondisi jalan sepanjang rute Labuan Bajo ke Desa Denge</strong> <strong>(basecamp Wae Rebo)</strong></h3>



<p>Karena saat itu di google maps belum ada saran rute lewat jalur pintas Nangalele, jadinya kami harus melewati jalan utama yang memutar melewati Pertigaan Pela, tapi saat blog ini ditulis, aku double cek di google maps sudah ada saran rute langsung yang lewat Nangalele, jadi kedepannya kalian mungkin bisa ikuti saran rute dari google maps yang melewati Nangalele. </p>



<p>Jalanan sepanjang Labuan Bajo sampai Pertigaan Pela kondisinya halus. Namun yang melelahkan adalah jalannya yang naik-turun dan berkelok-kelok seperti ular. Namun jalanan itu memang lebih seru dibandingkan track lurus yang bisa-bisa buat kita ngantuk. Selama kami di jalan Trans Flores cuacanya sangat panas. Panasnya tuh nyengat banget guys. Pokoknya kalo kalian ga pakai pakaian yang tertutup dijamin kulit kalian bakal langsung gosong hitam melekat, hehehe.</p>



<p>Setelah kita belok kanan di pertigaan Pela, kondisi jalan langsung berubah. Jalanannya menyempit dan banyak sekali ditemui jalan yang berlubang. Jalanan berlubang memang tidak merata sepanjang Pela hingga Desa Denge, tapi pokoknya ada banyak lah. Jadi sebelum berangkat, pastikan kalian berada dalam kondisi yang prima baik mental maupun fisik. Nah waktu itu sepanjang Pertigaan Pela hingga Pantai Dintor, kami harus berkendara ditemani dengan hujan intensitas sedang cenderung ke berat.</p>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="565" data-id="626" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4515-1024x565.jpg" alt="" class="wp-image-626" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4515-1024x565.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4515-300x165.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4515-768x423.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4515-696x384.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4515-1068x589.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4515.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Wujud Pertigaan Pela</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="571" data-id="625" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4514-1024x571.jpg" alt="" class="wp-image-625" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4514-1024x571.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4514-300x167.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4514-768x428.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4514-696x388.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4514-1068x595.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4514.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ada tanda penujuk arah seperti ini</figcaption></figure>
</figure>



<p>Dikarenakan hujan yang cukup lebat, kami sempat berhenti beberapa kali untuk berteduh di warung-warung lokal milik warga setempat. Sambil berteduh tak lupa kita memesan Pop Mie dan kopi untuk menghangatkan badan.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Bertemu dengan Pulau Mules</strong> <strong>dalam rute ke Wae Rebo</strong></h3>



<p>Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan kami kali ini. Di tengah-tengah perjalanan saat tiba di <a href="https://goo.gl/maps/JzZVLYH7Gc6usmFHA" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Pantai Dintor</a> namanya, kami melihat sebuah pulau di seberang laut, pulaunya cakep banget guys, pulau ini juga jadi penanda bagi kita bahwa perjalananan kita menuju Desa Denge sudah dekat lagi. Namun ada sesuatu yang cukup menggelitik, karena kalo kita liat di google maps, nama pulau itu adalah Pulau Mules, ya kalo kalian Orang Jawa kalian pasti tahulah artinya, hehehe.</p>



<p>Saat melihat Pulau Mules tak lupa kami berhenti dan menyempatkan diri untuk berfoto dengan background Pulau Mules. Lautnya cakep dan pulaunya juga nampak sangat dekat sekali dari daratan Pulau Flores. Nah ada hal yang cukup menarik disini, di Pesisir Dintor ini mayoritas penduduknya beragama muslim berbeda dengan mayoritas Penduduk di Pulau Flores yang beragama Katolik.&nbsp;</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Sampai di Basecamp Wae Rebo di Desa Denge rumah milik Pak Blasius.</strong></h3>



<p>Kira-kira 30 menit dari Dintor, kami akhirnya sampai di Rumah Pak Blasius. Kami tiba di rumah beliau sekitar Pukul 6.30 petang. Jadi guys, Pak Blasius ini adalah salah satu pioner wisata Waerebo. Beliaulah salah seorang yang membuat Wae Rebo bisa terkenal seperti sekarang hingga diakui Unesco sebagai <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/UNESCO_Intangible_Cultural_Heritage_Lists" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Unesco World Cultural Heritage</a>. Maka dari itu, semua orang bakal tahu siapa beliau. Dan jika google maps kalian mati, kalian bisa bertanya kepada siapa saja di daerah sana di mana rumah Pak Blasius ini.&nbsp;</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="767" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-1024x767.jpg" alt="Rute trip ke Waerebo
" class="wp-image-624" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-1024x767.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-300x225.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-768x575.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-696x521.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510-1068x800.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4510.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Berfoto di depan basecamp milik Pak Blasius</figcaption></figure>
</div>


<p>Beruntung sekali bagiku saat itu, aku bisa bertemu beliau di rumah. Dari beliau aku bisa mendengarkan cerita tentang Wae Rebo ini. Karena hari sudah malam, kami memutuskan untuk bermalam di rumah beliau. Jadi rumah beliau ini memang sudah di set untuk dijadikan homestay atau tempat singgah sementara. Biaya untuk menginap di basecamp milik Pak Blasius ini 200.000 per malam sudah termasuk makan. Jadi waktu itu kami tiba di malam hari, itu sudah termasuk makan malam dan sarapan esok harinya. 200.000 itu per orang ya guys, bukan per kamar. Jadi saat itu aku dan Bang Donald bayar masing-masing 200.000.</p>



<p>Kalian memang bisa saja langsung trekking ke Waerebo tanpa perlu singgah di rumah Pak Blasius. Tekniknya, kalian berangkat dari labuan Bajo pagi hari, paling tidak sudah start dari Labuan Bajo jam 6 pagi. Dan jangan lewat Pertigaan Pela seperti yang kutempuh, melainkan bisa melalui jalur pintas Nangalele. Jadi ketika tiba di Desa Denge, kalian bisa langsung start trekking. Jika kalian pilih opsi ini, pastikan kondisi fisik dan mental kalian dalam kondisi yang prima. Karena kalian harus menempuh waktu sekitar 4 jam naik motor ditambah dengan trekking jalan kaki naik bukit selama kurang lebih 3 jam. Jadi bisa kalian bayangkan sendiri capeknya seperti apa, ditambah medan jalan dari Labuan Bajo ke Desa Denge yang berkelok-kelok naik turun ditemani banyak lubang di sepanjang jalan.</p>



<p>Akan tetapi jika kalian ingin santai menikmati perjalanan sepertiku, kalian bisa pilih opsi untuk stay dulu di basecamp Wae Rebo milik Pak Blasius ini. Lumayanlah, bisa menambah wacana keilmuan dan bisa bertegur sapa dengan warga lokal.</p>



<p>Nah, untuk cerita selanjutnya waktu trekking, pengalaman selama di Desa Wae Rebo, cerita perjalanan pulang dari Desa Wae Rebo yang ga kalah seru dan rincian biaya yang harus kita keluarkan untuk menempuh perjalanan dari Labuan Bajo ke Wae rebo ini, bisa kalian baca di artikelku yang selanjutnya di link <a href="https://alabackpacker.com/trekking-ke-waerebo-ala-backpacker-lama-biaya-dan-rute/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Trekking ke Wae Rebo</a> ini ya guys.&nbsp;</p>



<p>Jika kalian ada pertanyaan mengenai rute trip ke Wae Rebo ini, kalian bisa silaturahmi ke akun IG ku di <a href="http://instagram.com/tint_arya" target="_blank" rel="noreferrer noopener">tint_arya</a>, jika ada waktu, pasti akan aku jawab pertanyaan kalian.  Dan jika kalian datang bersama rombongan dan memerlukan jasa sewa mobil untuk sampai ke basecamp milik Pak Blasius atau untuk booking homestaynya, kalian bisa kirim email ke alabackpacker.id@gmail.com. Nanti aku akan bantu prepare perjalanan kalian hingga selamat sampai tujuan. </p>



<p>See you in the next artikel!!</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="540" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4522-1024x540.jpg" alt="rute ke wae rebo via nangalele" class="wp-image-632" style="width:1024px;height:540px" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4522-1024x540.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4522-300x158.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4522-768x405.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4522-696x367.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4522-1068x563.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/IMG_4522.jpg 1170w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Rute ke Wae Rebo via Nangalele. Kalo kalian pakai mobil ada baiknya kalian pilih jalur utama melalui Pertigaan pela. Karena via Nangalele kalian akan melewati banyak sungai seperti ini, tidak hanya satu atau dua saja. Dan kalo musim hujan sungainya lebih dalam lagi, kalo pakai motor bisa pilah-pilih trek yang agak dangkal.</figcaption></figure>



<p>Baca juga : <a href="https://alabackpacker.com/travelling-ke-singapore-dan-malaysia-ala-backpacker/">Travelling ke Singapura dan Malaysia </a><a href="https://alabackpacker.com/travelling-ke-singapore-dan-malaysia-ala-backpacker/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">ala</a><a href="https://alabackpacker.com/travelling-ke-singapore-dan-malaysia-ala-backpacker/"> Backpacker</a></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p>Hello guys, saat ini aku sedang merintis usaha tour and travel di Jogja. Jika suatu saat kalian ingin berwisata ke Jogja bersama keluarga, silahkan cek website<a href="http://wisatajogja.com" target="_blank" rel="noreferrer noopener"> wisatajogja.com</a> dan cek IG-nya di<a href="http://instagram.com/wisatajogja_com" target="_blank" rel="noreferrer noopener"> wisatajogja_com</a> ya. Kami punya rating bagus di <a href="https://www.tripadvisor.com/AttractionProductReview-g294230-d19058536-Borobudur_Temple_Merapi_Lava_Tour_Prambanan_Temple-Yogyakarta_Region_Java.html" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Trip Advisor</a> loh,</p>


<div class="wp-block-image is-style-default">
<figure class="aligncenter size-medium"><img loading="lazy" decoding="async" width="300" height="300" src="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-300x300.jpg" alt="" class="wp-image-634" srcset="https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-300x300.jpg 300w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-1024x1024.jpg 1024w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-150x150.jpg 150w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-768x768.jpg 768w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-1536x1536.jpg 1536w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-2048x2048.jpg 2048w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-696x696.jpg 696w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-1068x1068.jpg 1068w, https://alabackpacker.com/wp-content/uploads/2023/01/wisatajogja-logo-1-1920x1920.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /></figure>
</div><p>The post <a href="https://alabackpacker.com/rute-trip-ke-wae-rebo-dari-labuan-bajo-ala-backpacker/">Rute Trip ke Wae Rebo dari Labuan Bajo ala backpacker</a> appeared first on <a href="https://alabackpacker.com">Ala Backpacker</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://alabackpacker.com/rute-trip-ke-wae-rebo-dari-labuan-bajo-ala-backpacker/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
